Kajian Live Streaming Cinta Sunnah

Insya Allah Ustadz Badrusalam, Lc. akan mengadakan kajian rutin dari rumah beliau melalui streaming yang diakses melalui website http://cintasunnah.com. Peserta kajian pun dapat bertanya-jawab setelah kajian.

Kajian yang diadakan khusus pembahasan ilmu hadits. Insya Allah akan membahas kitab Nuzhatun Nazhar Fii Taudhihi Nukhbatil Fikar karya Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah. Kajian ini diupayakan oleh Ustadz untuk diselenggarakan setiap hari.

Mengenai jadwal dan mekanisme kajiannya, tunggu kabar selanjutnya di page ini atau pantau terus situshttp://cintasunnah.com

Baarakallahu fiikum

- admin -

pemimpin

Amalan-Amalan Di Bulan Ramadlan (3)

7. Memberi makan untuk orang yang berbuka puasa.

Memberi makan orang yang berbuka puasa adalah ibadah yang agung, sebagaimana dalam hadits:

مَنْ فَطَّرَ صَائِماً ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أجْرِهِ ، غَيْرَ أنَّهُ لاَ يُنْقَصُ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Barang siapa yang memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa, maka ia mendapat seperti pahalanya, akan tetapi pahala orang yang berpuasa tidak berkurang sedikitpun.” HR At Tirmidzi, ibnu Majah, Ahmad dan lainnya.

 

8. Sahur.

Sesungguhnya sahur adalah sunnah yang sangat ditekankan, dan ia mempunyai beberapa keutamaan, yaitu:

Pertama: Sahur adalah makanan yang berkah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السُّحُورِ بَرَكَة

“Bersahurlah karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” HR Muslim.

Dalam hadits lain Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

الْبَرَكَةُ فِي ثَلَاثَةٍ: فِي الْجَمَاعَةِ، وَالثَّرِيدِ ، وَالسَّحُور

“Keberkahan ada pada tiga; berjama’ah, tsarid, dan sahur.” HR Ath Thabrani[1].

Kedua: Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ.

“Sesungguhnya Allah dan malaikatNya bershalawat atas orang-orang yang sahur.” HR Ath Thabrani dalam Al Mu’jamul Ausath[2].

Ketiga: Sebagai pembeda antara puasa kaum muslimin dan puasa ahlul kitab.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَر

“Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahlul Kitab adalah makan sahur.” HR Muslim.

 

Adab-adab sahur.

Disana ada beberapa adab yang hendaknya kita perhatikan dalam bersahur, yaitu:

  1. Bersahur dengan kurma.

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْر

“Sebaik-baik makanan sahur bagi seorang mukmin adalah kurma.” HR Abu Dawud[3] dan lainnya.

  1. Mengakhirkan waktu sahur.

Waktu sahur yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak jauh dari waktu fajar, sebagaimana dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit ia berkata:

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ، ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ قُلْتُ : كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَبَيْنَ السُّحُورِ؟ قَالَ : قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً.

“Kami pernah bersahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Anas berkata, “Berapa jarak waktu antara adzan dan sahur ?” Ia menjawab, “Sekitar membaca 50 ayat.” HR Bukhari dan Muslim[4].

Dan itulah yan diamalkan oleh para shahabat setelahnya, Amru bin Maimun Al Audi berkata, “Para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat bersahur.”[5] Al hafidz ibnu Hajar ketika menjelaskan bab: “Ta’jil sahur.” Dalam shahih Bukhari berkata, “Maksudnya mempercepat makan sebagai isyarat bahwa dahulu sahur itu mendekati terbitnya fajar. Lalu beliau membawakan riwayat Imam Malik dalam muwatha’nya dari jalan Abdullah bin Abu bakar dari ayahnya berkata, “Dahulu selesai sholat malam kami bersegera makan sahur karena takut fajar menyingsing.”[6]

Namun di zaman ini kita melihat penyimpangan dari sunnah dalam bersahur, kita melihat mereka bersahur sekitar jam satu atau jam dua malam. Tentunya fenomena ini sangat tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat serta para ulama setelahnya.

 

Hukum imsak.

Ditambah lagi mereka mengada-adakan sebuah perkara baru, yaitu yang disebut dengan imsak, dengan melarang makan dan minum sekitar 10 menit sebelum fajar dengan alasan kehati-hatian. Padahal bila kita perhatikan, pengadaan imsak ini bertentangan dengan hadits, kaidah ushul fiqih dan apa yang difatwakan oleh para ulama.

Adapun hadits, Abu Dawud (no 2352) meriwayatkan dalam sunannya dari jalan Hammad dari Muhammad bin Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْه

“Apabila salah seorang dari kamu mendengar adzan sementara gelas masih ada di tangannya, janganlah ia meletakkannya sampai ia menyelesaikan hajatnya.”[7]

Dan dalam riwayat Ahmad (2/510) dengan tambahan: “Dan muadzin beradzan ketika fajar telah menyingsing.” Tambahan ini membantah pendapat yang mengatakan bahwa adzan yang dimaksud adalah adzan sebelum fajar.

Hadits ini mengecualikan keumuman ayat dalam surat Al Baqarah: 187 yang artinya: “Makan dan minumlah sampai menjadi jelas bagimu benang putih dari benang hitam dari fajar.” Bahkan sebagian shahabat ada yang berpendapat lebih dari ini, mereka memperbolehkan sahur sampai fajar benar-benar telah menjadi jelas dan terang, silahkan dirujuk kitab Fathul Bari 4/136-137[8].

Adapun kaidah ushul, sebuah kaidah fiqih berkata:

الأصل بقاء ما كان على ما كان

“Pada asalnya sesuatu itu tetap pada asalnya terdahulu.”

Ketika seseorang ragu apakah telah masuk fajar atau belum, lalu ia makan dan ternyata fajar telah masuk, maka tidak batal puasanya, karena pada asalnya malam masih ada sampai ada bukti yang kuat yang menunjukkan bahwa fajar telah menyingsing. Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu berkata, “Allah menghalalkan makan dan minum sahur selama kamu masih ragu sampai kamu tidak merasa ragu.” HR Abdurrazzaq[9]. Ibnul Mundzir berkata, “Ini adalah pendapat mayoritas ulama.”[10] Jadi, kehati-hatian yang diklaim itu sebenarnya adalah was-was yang tidak boleh kita ikuti.

Adapun fatwa ulama, Al Hafidz ibnu Hajar Al ‘Asqolani rahimahullah berkata, “Termasuk bid’ah yang mungkar adalah yang terjadi di zaman ini, yaitu mengumandangkan adzan kedua sebelum fajar menyingsing sekitar sepertiga jam, dan mematikan lampu-lampu untuk dijadikan tanda haramnya makan dan minum bagi orang yang ingin berpuasa. Mereka lakukan itu dengan alasan kehati-hatian dalam ibadah..[11]

Yang terjadi di zaman Al Hafidz tersebut serupa dengan pengadaan imsak di zaman ini, karena sama-sama beralasan kehati-hatian dalam ibadah. Ya, kehati-hatian dalam beribadah adalah terpuji selama tidak terjerat dalam was-was dan menyelisihi sunnah.

8. Umrah.

Umrah di bulan Ramadlan mempunyai keistimewaan lebih dibandingkan dengan umroh di bulan lainnya. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam shahihnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً مَعِيْ.

“Sesungguhnya umroh di bulan Ramadlan sama dengan haji bersamaku.”

Ini tentunya adalah kesempatan yang besar untuk meraih pahala yang besar di sisi Allah, terutama bagi mereka yang diberikan keluasan harta oleh Allah Subhanahu wata’ala.

 

9. I’tikaf.

I’tikaf adalah ibadah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terutama di sepuluh terakhir bulan Ramadlan, Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf pada setiap bulan Ramadlan sepuluh hari. Ketika di tahun yang beliau meninggal padanya beliau beri’tikaf dua puluh hari lamanya.” HR Bukhari[12].

Waktu i’tikaf yang paling utama adalah sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan sebagaimana dalam hadits Aisyah radliyallahu ‘anha:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ.

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadlan sampai beliau Allah mewafatkan beliau.” HR Bukhari dan Muslim[13].

Tempat i’tikaf adalah masjid bukan di rumah, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَأَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Sementara kalian beri-tikaf di masjid-masjid.” QS Al Baqarah: 187.

Namun para ulama berpendapat apakah yang dimaksud masjid dalam ayat tersebut, sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud adalah hanya tiga masjid saja, berdasarkan hadits:

لَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ.

“Tidak ada i’tikaf kecuali di tiga masjid.”

Sedangkan (jumhur) mayoritas ulama berpendapat disyari’atkan i’tikaf di setiap masjid berdasarkan keumuman ayat di atas. Namun jumhur berselisihan masjid seperti apa yang diperbolehkan padanya i’tikaf, kebanyakan berpendapat masjid jami’ yaitu masjid yang ditegakkan padanya shalat jum’at.

Disunnah untuk masuk ke masjid setelah maghrib di tanggal dua puluh Ramadlan, dan masuk ke tempat i’tikaf setelah shalat fajar tanggal 21 Ramadlan, berdasarkan hadits Aisyah:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadlan, dahulu aku yang memasangkan kemah untuk beliau, beliau shalat shubuh lalu masuk ke dalamnya.” HR Bukhari[14].

Orang yang beri’tikaf hendaklah menjauhi dua perkara yang membatalkan i’tikafnya, yaitu keluar dari masjid dengan tanpa udzur syar’iy dan berjima’ dengan istri[15]. Dan hendaklah mereka yang beri’tikaf menyibukkan dirinya dengan keta’atan seperti shalat, membaca Al Qur’an, istighfar, dan sebagainya serta tidak dilalaikan dengan sesuatu yang sia-sia.

 

10. Zakat Fithr.

Zakat fithr adalah kafarat (penebus) bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata yang tidak baik ketika ia berpuasa, ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu berkata:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithr sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata yang tidak baik, dan sebagai makanan untuk orang-orang miskin.” HR Abu dawud[16] dan lainnya.

Ia diwajibkan atas setiap kaum muslimin sebanyak satu sho’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ , وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى , وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ , وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithr satu sho’ kurma atau satu sho’ sya’ir (gandum), atas hamba sahaya dan merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan dewasa dari kaum muslimin, dan beliau memerintahkan agar zakat fithr dibagikan sebelum manusia keluar menuju sholat.” HR Bukhari dan Muslim[17].

Waktu pembagiannya yang wajib adalah sebelum sholat ‘ied sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits di atas. Namun diperbolehkan membayarnya sehari atau dua hari sebelum ied, Nafi’ berkata, “Ibnu Umar memberikannya kepada orang yang berhak menerimanya, dan dahulu mereka membagikannya sebelum ‘iedul fithr sehari atau dua hari.”[18] Adapun setelah sholat ‘ied maka pelakunya berdosa namun ia tetap wajib mengeluarkannya dengan ijma’ ulama, karena zakat fithr adalah hak para hamba[19].

Pada asalnya zakat fithr tidak boleh dibayar dengan uang, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mewajibkan zakat fithr dengan satu sho’ dari makanan, padahal di zaman beliau ada dinar dan dirham. Namun bila keadaannya darurat atau dibutuhkan atau ada kemashlahatan yang besar maka tidak mengapa dengan uang. Wallahu a’lam.

Adapun mustahiqnya hanya fakir miskin saja, karena zakat fithr termasuk zakat badan bukan zakat harta, karena dalam hadits ibnu Abbas di atas disebutkan bahwa zakat fithr berfungsi sebagai pensuci, ini menunjukkan bahwa ia adalah kafarat sehingga lebih serupa dengan membayar kafarat, sedangkan membayar kafarat itu hanya untuk fakir miskin saja, oleh karena itu ibnu Abbas menyebutkan bahwa zakat fithr itu sebagai makanan untuk fakir miskin. Dan ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah[20].

11. Memperbanyak berdo’a dan dzikir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa do’a orang yang berpuasa itu dikabulkan, beliau bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ: دَعْوَةُ الصَّائِمِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga do’a yang diijabah: do’a orang yang berpuasa, do’a musafir dan do’a orang yang dizalimi.” HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman[21].

Ini adalah kesempatan yang baik agar do’a kita diijabah oleh Allah subhanahu wata’ala, maka hendaklah seorang yang berpuasa banyak disibukkan dengan berdo’a kepada Allah dan juga berdzikir, agar lisan kita selamat dari perbuatan yang sia-sia dan kata-kata yang tidak baik.

 



[1] Al Mu’jamul Kabir 6/251 no 7114. Dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih targhib 1065.

[2] Al Mu’jamul Ausath 6/287, Syaikh Al Bani berkata, “Hasan shahih.” Lihat shahih targhib no 1066.

[3] Sunan Abu dawud no 2347 dan dishahihkan oleh Syaikh Al bani.

[4] Shahih Bukhari no 1821 dan Muslim no 1097.

[5] Dikeluarkan oleh Abdurrazaq dalam Mushannafnya  no 7591 dengan sanad yang shahih.

[6] Fathul Bari 4/137.

[7] Sanad ini hasan, dan hadits ini menjadi shahih dengan dikuatkan oleh Riwayat imam Ahmad dalam musnadnya no 10637 dari jalan Hammad dari Ammar bin Abi Ammar dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ini adalah sanad yang shahih.

[8] Cet. Darul Ma’rifah Beirut.

[9] Al Mushannaf 4/172 no 7367 dan dishahihkan oleh Al Hafidz ibnu Hajar dalam fathul bari 4/135, beliau berkata, “Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar serupa dengannya.

[10] Lihat Fathul Bari syarah shahih Al bukhari 4/135.

[11] Fathul Bari 4/199.

[12] Shahih Bukhari no 2044.

[13] Shahih Bukhari no 2026 dan Muslim no 1172.

[14] Shahih Bukhari no 2045.

[15] Dirujuk kitab shahih fiqih sunnah 2/155.

[16] Sunan Abu Dawud no 1611, dan sanadnya hasan.

[17] Shahih Bukhari no 1503, dan Muslim no 984 dari Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma.

[18] Diriwayatkan oleh Bukhari no 1511 dan Muslim no 986.

[19] Lihat shahih fiqih sunnah 2/84.

[20] Lihat Majmu’ fatawa 25/73.

[21] Syu’abul Iman 6/48 no 7463 dan Shaikh Al Bani menshahihkannya dalam silsilah shahihah no 1797.

puasa

Amalan-Amalan Di Bulan Ramadlan (2)

3. Tadarus Al Qur’an.

Membaca Al Qur’an adalah ibadah yang agung dan dzikir yang paling utama. Al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada setiap orang yang membacanya, sebagaimana dalam hadits:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي شَافِعًا لِأَصْحَابِهِ يَوْمَ الْقِيَامَة

“Bacalah Al Qur’an, sesungguhnya ia akan datang memberikan syafa’at kepada para pembacanya pada hari kiamat.” HR Ahmad[1] dan lainnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan pahala yang besar untuk orang yang membaca Al Qur’an, beliau bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهَا أَمَا إِنِّي لَا أَقُولُ: الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلْفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah, maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan tersebut dihitung sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” HR At Tirmidzi[2] dan lainnya.

Bulan Ramadlan adalah bulan Al Qur’an, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di setiap bulan Ramadlan tadarus Al Qur’an bersama malaikat Jibril ‘alaihissalam. Ibnu Abbas berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ  

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah (mempelajari) Al Qur’an.. (HR Al Bukhari).[3]

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tadarus Al Qur’an bersama Jibril ‘alaihissalam di malam bulan Ramadlan, ini menunjukkan bahwa waktu yang paling utama untuk membaca Al Qur’an dan mempelajarinya di bulan Ramadlan adalah di waktu malam. Dan ini juga ditunjukkan oleh sebuah hadits:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Shoum dan Al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat. Shoum berkata, “Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwat di waktu siang, izinkan aku memberi syafa’at untuknya.” Al Qur’an berkata, “Aku telah mencegahnya tidur di waktu malam, izinkan aku memberi syafa’at untuknya. Keduanya pun diberi izin untuk memberi syafa’at.” HR Ahmad dan lainnya.[4]

Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al Qur’an di bulan Ramadlan, oleh karena itu dahulu salafushalih lebih banyak menyibukkan dirinya dengan membaca Al Qur’an ketika datang bulan Ramadlan. Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Dahulu salafushalih memperbanyak membaca Al Qur’an di bulan Ramadlan, dalam shalat dan dalam kesempatan lainnya. Imam Az Zuhri rahimahullah apabila telah masuk Ramadlan berkata, “Ia hanyalah untuk membaca Al Qur’an dan memberi makan.” Imam Malik rahimahullah apabila telah datang bulan Ramadlan meninggalkan membaca hadits dan majelis-majelis ilmu dan lebih menyibukkan diri dengan membaca Al Qur’an dari mushhaf. Imam Qatadah biasanya mengkhatam Al Qur’an di setiap tujuh hari, dan di bulan Ramadlan beliau mengkhatam setiap tiga hari…[5]

Imam Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani berkata, “Sufyan Ats Tsauri apabila telah masuk bulan Ramadlan, beliau meninggalkan semua ibadah (yang sunnah) dan bersungguh-sungguh membaca Al Qur’an. Dan Aisyah radliyallahu ‘anha membaca mushaf di awal siang di bulan Ramadlan, apabila matahari telah terbit beliapun tidur.”[6]

 

4. Memperbanyak shodaqoh.

Dalam hadits ibnu Abbas yang telah kita sebutkan tadi disebutkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan… al hadits.

Hadits tersebut memberikan faidah kepada kita bahwa kedermawanan hendaknya lebih di tingkatkan lagi di bulan Ramadlan. Mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih meningkatkan kedemawanan di bulan Ramadlan secara khusus?? Al Hafidz ibnu Rajab menyebutkan banyak faidah mengapa demikian. Beliau berkata, “Meningkatnya kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di bulan Ramadlan secara khusus memberikan faidah yang banyak, diantaranya:

Pertama: Bertepatan dengan waktu yang mulia dimana amalan dilipatkan gandakan pahalanya bila bertepatan dengan waktu yang mulia.

Kedua: Membantu orang-orang yang berpuasa, sholat malam, dan berdzikir dalam ketaatan mereka, sehingga orang yang membantu itu mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang dibantu. Sebagaimana orang yang memberikan persiapan perang kepada orang lain mendapat pahala seperti orang yang berperang.

Ketiga: Allah amat dermawan kepada hamba-hamabNya di bulan Ramadlan dengan memberikan kepada mereka rahmat, ampunan dan kemerdekaan dari api Neraka, terutama di malam lailatul qodar. Allah merahmati hamba-hambaNya yang kasih sayang, sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ.

“Sesungguhnya Allah hanyalah menyayangi hamba-hambaNya yang penyayang.” HR Bukhari dan Muslim.[7]

Barang siapa yang dermawan kepada hamba-hamba Allah, maka Allahpun akan dermawan kepadanya dengan karuniaNya, dan balasan itu sesuai dengan jenis amalan.

Keempat: Menggabungkan puasa dan sedekah adalah sebab yang memasukkan ke dalam surga, sebagaimana dalam hadits Ali Radliyallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَام

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang luarnya terlihat dari dalamnya, dan dalamnya terlihat dari luarnya.” Seorang arab badui berdiri dan berkata, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Untuk orang yang membaguskan perkatannya, memberi makan, senantiasa berpuasa, dan shalat malam karena Allah sementara manusia sedang terlelap tidur.” HR At Tirmidzi.[8]

Amalan-amalan yang disebutkan dalam hadits ini semuanya ada dalam bulan Ramadlan, maka terkumpul pada seorang mukmin puasa, qiyamullail, shodaqoh, dan berbicara baik karena orang yang sedaang berpuasa dilarang melakukan perbuatan sia-sia dan kotor.

Kelima: Menggabungkan antara puasa dan shodaqoh lebih memberikan kekuatan yang lebih untuk menghapus dosa dan menjauhi api Neraka, terlebih bila ditambah sholat malam. Dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwa puasa adalah perisai[9]. Beliau juga mengabarkan bahwa shodaqoh itu dapat memadamkan kesalahan sebagaimana air dapat memadamkan api[10].

Keenam: Orang yang berpuasa tentunya tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, maka shodaqoh dapat menutupi kekurangan dan kesalahan tersebut, oleh karena itu diwajibkan zakat fithr di akhir Ramadlan sebagai pensuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata yang kotor.

Faidah lainnya adalah yang disebutkan oleh imam Asy Syafi’i, beliau berkata, “Aku suka bila seseorang meningkatkan kedermawanan di bulan Ramadlan karena mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga karena kebutuhan manusia kepada perkara yang memperbaiki kemashlatan mereka, dan karena banyak manusia yang disibukkan dengan berpuasa dari mencari nafkah.”[11]

Banyak hadits yng menjelaskan keutamaan shodaqoh, diantaranya hadits:

 مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللهُ إِلَّا الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ.

“Siapa yang bershodaqoh dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang halal, dan Allah tidak menerima kecuali yang halal, maka Allah akan menerima dengan tangan kananNya, lalu mengembang biakkannya sebagaimana seseorang dari kamu mengembang biakkan anak kudanya sehingga menjadi sebesar gunung.” HR Bukhari dan Muslim[12].

Namun hendaknya orang yang ingin bershodaqoh mendahulukan yang wajib sebelum yang sunnah, karena ia lebih besar pahalanya, sebagaimana dalam hadits:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan hamba sahaya, dinar yang kamu infakkan kepada fakir miskin, dan dinar yang kamu infakkan kepada istrimu, yang paling besar pahalanya adalah dinar yang kamu infakkan kepada istrimu.” HR Muslim.[13]

 

5. Menyegerakan berbuka puasa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya agar menyegerakan berbuka puasa, bahkan menjadikannya sebagai tonggak kebaikan umat islam. Beliau bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْر

“Manusia (umat islam) senantiasa baik selama mereka bersegera berbuka puasa.”  HR Bukhari dan Muslim.

Dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُون

“Agama ini senantiasa menang selama manusia bersegera berbuka, karena Yahudi dan Nashrani mengakhir-akhirkan berbuka puasa.” HR Abu Dawud dan ibnu majah[14].

Yang dimaksud dengan bersegera berbuka puasa adalah bersegera berbuka ketika matahari telah terbenam walaupun langit masih terlihat terang, sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Abi Aufa radliyallahu ‘anhu berkata:

سِرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ صَائِمٌ فَلَمَّا غَرَبَتِ الشَّمْسُ قَالَ « يَا بِلاَلُ انْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَمْسَيْتَ. قَالَ « انْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا ». قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ عَلَيْكَ نَهَارًا. قَالَ « انْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا ». فَنَزَلَ فَجَدَحَ فَشَرِبَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ « إِذَا رَأَيْتُمُ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ هَا هُنَا فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ ». وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ قِبَلَ الْمَشْرِقِ.

“Kami berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berpuasa, ketika matahari telah tenggelam, beliau bersabda, “Hai Bilal turunlah dan sediakan makanan berbuka untuk kita.” Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, jika engkau menunggu agak sore lagi?” beliau bersabda, “Turunlah dan sediakan makanan berbuka untuk kita.” Bilal berkata, “Wahai Rasulullah, langit masih terang.” Beliau bersabda, “Turunlah dan sediakan makanan berbuka untuk kita.” Bilalpun turun dan mempersiapkannnya, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam minum, kemudian beliau bersabda, “Apabila malam telah datang dari arah sana, maka telah masuk waktu berbuka puasa.” Beliau menunjuk ke arah timur. (HR Abu Dawud[15] dan lainnya dengan sanad shahih).

Hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan ta’jil (bersegera berbuka puasa) memberikan kepada kita banyak faidah, diantaranya:

Pertama: Agama ini akan sentiasa menang selama umat islam menyelisihi kaum ahlul kitab dan tidak menyerupai mereka dalam seluruh sisi kehidupan.

Kedua: Berpegang kepada islam hendaknya menyeluruh (kaffah), sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوْا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَافَّة

“Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu masuk islam secara kaffah.” (Al Baqarah: 208).

Kita tidak boleh memilah masalah pokok dengan masalah parsial, atau memilah antara cangkang dan inti, karena sikap seperti ini adalah bid’ah yang diada-adakan di zaman ini. Bila masalah ta’jil yang banyak diremehkan oleh kaum muslimin ini dianggap sebagai tonggak kejayaan islam, maka itu menunjukkan bahwa syari’at islam sekecil apapun tidak boleh dianggap remeh, karena semua itu berasal dari Allah pencipta langit dan bumi.

Ketiga: Kejadian-kejadian memilukan yang menimpa kaum muslimin di negeri-negeri islam tidak boleh menjadikan kita membeda-bedakan syari’at Allah atau bahkan menganggap sepele masalah-masalah yang dianggap parsial. Ketika kita mengingkari suatu bid’ah, banyak orang yang berkata, “Mengapa kamu menyibukkan diri dengan masalah-masalah sepele, sementara kaum muslimin dibantai??” apakah ia tidak sadar bahwa kehinaan kaum muslimin disebabkan jauhnya mereka dari ajaran islam yang benar, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

“Apa-apa yang aku larang tinggalkanlah, dan apa-apa yang aku perintahkan lakukanlah semampu kamu, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah banyak bertanya dan menyelisi Nabi-Nabi mereka.” HR Bukhari dan Muslim.

 

6. Memperhatikan adab-adab berbuka puasa.

Setelah menjelaskan keutamaan ta’jil, kita akan menjelaskan adab-adab berbuka puasa yang hendaknya diperhatikan oleh setiap orang yang berbuka puasa, diantara adabnya adalah:

Adab Pertama: Berbuka sebelum shalat maghrib.

Berdasarkan hadits Anas radliyallahu ‘anhu, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ عَلَى رُطَبَاتٍ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan ruthab sebelum shalat (maghrib).” HR Abu Dawud dan lainnya[16].

Di negeri kita ini ada sebuah fenomena yang harus diingatkan, yaitu banyak kaum muslimin ketika berbuka mereka langsung makan besar sehingga meninggalkan shalat berjama’ah di masjid, tentunya ini tidak sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagusnya kita berbuka dahulu dengan kurma lalu pergi ke masjid untuk shalat berjama’ah, kemudian bila kita ingin melanjutkan makan, kita lakukan setelah shalat maghrib, agar tidak terluput dari keutamaan besar shalat berjama’ah di masjid.

Adab Kedua: Berbuka dengan ruthab, bila tidak ada maka dengan kurma, bila tidak ada maka dengan air.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan agar berbuka dengan kurma, bila tidak ada maka dengan air. Senbagaimana dalam hadits Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat (maghrib), bila ruthab  tidak ada beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), bila tidak ada juga beliau berbuka dengan air.” HR Abu Dawud dan lainnya.

Berbuka dengan ruthab amat bermanfaat untuk kesehatan lambung, terlebih setelah kita menahan lapar seharian sangat sesuai bila berbuka dengan ruthab atau kurma, agar lambung diperkuat terlebih dahulu sebelum dimasukkan makanan yang berat, dan khasiat kurma juga banyak sebagaimana yang disebutkan oleh para ahlinya.

Adab Ketiga: Membaca do’a berbuka puasa.

Do’a yang shahih adalah hadits ibnu Umar:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah bberbuka, beliau mengucapkan: “Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala insyaa Allah.” HR Abu Dawud[17] dan lainnya.

Adapun do’a yang terkenal di negeri kita, yaitu:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَي رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Allah aku berpuasa karenaMu, aku beriman kepadaMu, dan aku berbuka dengan rizkiMu, dengan rahmatMu wahai Dzat yang Maha kasih sayang.”

Ini adalah lafadz yang dibuat-buat dan tidak ada asalnya. Ya, ada riwayat yang menyebutkan, namun tidak ada tambahan: “wabika aamantu.” Juga tidak ada: “birohmatika yaa arhamarrahimin.” Yaitu hadits:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ زُهْرَةَ : أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ :« اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ».

“Dari Mu’adz bin Zahroh sampai kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka mengucapkan: “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu (Ya Allah aku berpuasa karenaMu, dan aku berbuka dengan rizkiMu).”

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu dawud (2360) dan lainnya, semuanya dari jalan Hushain bin Abdurrahman dari Mu’adz bin Zahroh. Dan sanad ini mempunyai dua cacat:

Pertama: Mursal, karena Mu’adz bin Zahroh bukan shahabat.

Kedua: Mu’adz bin Zahroh ini majhul, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Hushain ini. Ibnu Abi hatim menyebutkannya dalam kitab Al jarhu watta’dil namun beliau tidak menyebutkan celaan (jarh) tidak pula pujian (ta’dil).

Namun hadits ini mempunyai syahid dari hadits Anas dan ibnu Abbas. Adapun hadits Anas diriwayatkan oleh Ath Thbarani dalam Al Mu’jam Ash Shaghier (2/133 no 912) dan Al Ausath (7549) dari jalan Isma’il bin Amru Al bajali haddatsana Dawud bin Az Zabarqon haddatsana Syu’bah dari Tsabit Al bunani dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka mengucapkan: “Bismillah Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu.”

Sanad ini sangat lemah karena ada dua cacat:

Pertama: Isma’il bin Amru Al bajali dikatakan oleh Adz Dzahabi, “Ia dianggap lemah oleh banyak ulama.”

Kedua: Dawud bin Az Zabarqon. Al Hafidz ibnu hajar berkata dalam taqribnya: “Matruk dan dianggap pendusta oleh Al Azdi.”

Adapun hadits ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Ad Daroquthni dalam sunannya (2/185 no 26) dan lainnya dari jalan Abdul Malik bin Harun bin ‘Antaroh dari ayahnya dari kakeknya dari ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaibhi wasallam apabila berbuka mengucapkan: “Allahumma laka shumnaa wa ‘alaa rizqika afthornaa Allahumma taqobbal minna innaka antassami’ul ‘aliim.”

Sanad hadits ini sangat lemah juga, dalam sanadnya terdapat Abdul malik bin Harun, dikatakan oleh Adz Dzahabi dalam kitab diwan dlu’afa: “tarokuuh (para ulama meninggalkannya), As Sa’di berkata, “Dajjal.”[18]

Karena dua syahid ini sangat lemah maka tidak dapat menguatkan hadits tersebut. Wallahu a’lam. Adapun tambahan “wa bika aamantu” dan “birohmatika yaa Arhamarrohimin” adalah tambahan yang tidak ada asalnya sama sekali. Allahul musta’an.

 



[1] Musnad Ahmad no 22213.

[2] Sunan At Tirmidzi no 2910.

[3] No 6.

[4] Musnad imam Ahmad no 6626 dari hadits Abdullah bin Amru. Lihat shahih targhib no 1429.

[5] Majalis Ramadlan hal. 24 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin.

[6] Lathaif Ramadlan hal. 318-319 karya Al Hafidz ibnu Rajab 795H.

[7] Bukhari no 1284 dan Muslim no 923.

[8] Sunan At Tirmidzi no 1985. Dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ishaq Al kufi, ia dianggap lemah oleh Al Hafidz ibnu hajar dalam taqribnya, namun Hadits ini mempunyai syahid dari hadits Abu Malik Al Asy’ari yang diriwayatkan oleh imam Ahmad 5/343, dan hadits ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam mustadraknya 1/80, dishahihkan oleh Al hakim dan dihasankan oleh Syaikh Al bani.

[9] HR Bukhari no 1894 dan Muslim no 1151.

[10] HR At Tirmidzi no 2619, beliau berkata, “Hadits hasan shahih.”

[11] Lathaif Al Ma’arif hal 310-315 dengan diringkas.

[12] Bukhari no 1410, dan Muslim 2/702 no 1014.

[13] Shahih Muslim no 995.

[14] Sunan Abu Dawud no 2355, dan sunan ibnu majah no 224, dan sanad hadits ini hasan.

[15] Sunan Abu Dawud no 2354.

[16] Sunan Abu Dawud no 2356, imam Ahmad dalam musnadnya 3/164 dengan sanad yang hasan.

[17] Sunan Abu Dawud no 2359 dengan sanad yang hasan.

[18] Dirujuk Irwaul Ghalil 4/36-38.

ingat-manusia-ingat-allah

Amalan-Amalan di Bulan Ramadlan (1)

Bulan Ramadlan adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang diturunkan padanya Al Qur’an, bulan yang terdapat padanya malam yang lebih baik dari seribu bulan, dan setiap malamnya Allah Ta’ala memerdekakan hamba-hambaNya dari api Neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ مَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجِنَّانِ فَلَمْ يُغْلَقُ مِنْهَا بَابٌ ، وَنَادَى مُنَادٍ : يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ.

“Apabila telah masuk malam pertama dari bulan Ramadlan, setan-setan yaitu jin-jin yang durhaka akan diikat, pintu-pintu Neraka akan dikunci dan tidak satupun pintu yang terbuka. Pintu-pintu surga akan dibuka dan tidak satupun pintu yang terkunci. Dan akan ada yang menyeru, “Wahai orang yang menginginkan kebaikan kemarilah, dan wahai orang yang menginginkan keburukan tahanlah.” Allah memerdekakan hamba-hambaNya dan itu terjadi pada setiap malam.” (HR At Tirmidzi, ibnu Majah dan lainnya).

Kewajiban setiap muslim adalah berlomba-lomba mencari keberkahan bulan ini dengan banyak beramal shalih, agar kita termasuk orang-orang yang dimerdekakan oleh Allah dari api Neraka. Sungguh sangat merugi orang yang keluar dari bulan Ramadlan dalam keadaan tidak mendapat ampunan Allah Ta’ala. Jabir bin Abdillah radliyallahu ‘anhu berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَقِىَ الْمِنْبَرَ فَلَمَّا رَقِىَ الدَّرَجَةَ الْأُولَى قَالَ آمِيْنَ ثُمَّ رَقِىَ الثَّانِيَةَ فَقَالَ آمِيْنَ ثُمَّ رَقِىَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ آمِيْنَ فَقَالُوا يَا رَسُوْلَ اللهِ سَمِعْنَاكَ تَقُوْلُ آمِيْنَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ لَمَّا رَقِيْتُ الدَّرَجَةَ الأُولَى جَاءَنِي جِبْرِيْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ آمِيْنَ ثُمَّ قَالَ شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ فَقُلْتُ آمِيْنَ ثُمَّ قَالَ شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ فَقُلْتُ آمِيْنَ.

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam menaiki mimbar, ketika beliau menaiki tangga yang pertama beliau bersabda, “Aamiin.” Ketika menaiki tangga kedua beliau berucap, “Aamiin.” Ketika menaiki tangga yang ketiga beliau berucap, “Aamiin.” Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan Aamiin tiga kali.” Beliau bersabda, “Ketika aku menaiki tangga yang pertama, Jibril ‘alaihissalam datang kepadaku dan berkata, “Celaka hamba yang mendapati bulan ramadlan, setelah lepas darinya ternyata ia tidak diampuni dosa-dosanya.” Akupun mengucapkan Aamiin. Kemudian ia berkata, “Celaka hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya namun tidak memasukkannya ke dalam surga. Akupun mengucapkan Aamiin. Kemudian ia berkata, “Celaka hamba yang disebutkan namamu di sisinya tetapi ia tidak bershalawat untukmu. Akupun mengucapkan Aamiin. (HR Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad[1]).

Setiap kita pasti tidak rela bila terkena do’a tersebut, maka tiada jalan kecuali bersungguh-sungguh menjalani ramadlan dengan banyak beramal shalih.

 

AMALAN-AMALAN DI BULAN RAMADLAN

 

Adapun amalan yang dapat kita lakukan di bulan Ramadlan adalah:

1. Shaum Ramadlan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. رواه البخاري ومسلم

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang berpuasa ramadlan karena iman dan berharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Bukhari dan Muslim).

Shoum adalah ibadah yang agung di sisi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Semua amal anak Adam dilipat gandakan; satu kebaikan ditulis sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza wa Jalla berfirman, “Kecuali shoum karena ia untukKu, dan Aku yang akan membalasnya; ia meninggalkan syahwat dan makanannya karenaKu.” Orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka puasa, dan kegembiraan ketika bertemu dengan Rabbnya. Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari minyak kesturi.” (HR Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafadz Muslim).

Pada hari kiamat, shoum akan datang memberikan syafa’at kepada pelakunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Shiyam dan al Qur’an akan memberikan syafa’at kepada hamba pada hari kiamat. Shiyam berkata,”Ya Rabb, aku telah mencegahnya dari makanan dan syahwatnya di waktu siang maka beri aku syafa’at untuknya. Al Qur’an berkata,”Ya Rabb, aku telah mencegahnya tidur di waktu malam, beri aku syafa’at untuknya.” (HR Ahmad).[2]

Bahkan, orang yang berpuasa akan disediakan pintu khusus ke surga, pintu itu bernama Royyan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَد

“Sesungguhnya surga mempunyai pintu yang bernama Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat, tidak selain mereka yang memasukkinya. Akan dikatakan,”Dimana orang-orang yang berpuasa? Merekapun dari pintu tersebut. Apabila semuanya telah masuk, akan dikunci dan tidak ada yang memasukkinya seorangpun.” (HR Bukhari dan Muslim).

Namun, berapa banyak orang yang berpuasa akan tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali menahan haus dan lapar, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya menahan lapar dan dahaga saja.” (HR Ibnu Majah).[3]

Hal itu terjadi karena ia tidak berpuasa dari apa yang Allah haramkan, ia seakan menganggap bahwa puasa itu hanya menahan diri dari pembatal-pembatal puasa saja, dalam hadits:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkannya, maka Allah tidak butuh kepada puasanya.” (HR Bukhari).[4]

Karena hakikat shaoum adalah menahan dari dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَث

“Bukanlah shoum itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, akan tetapi shoum adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.” (HR Ibnu Khuzaimah).[5]

 

Syarat dan Rukun puasa.

Adapun rukun puasa ada dua, pertama adalah niat dan kedua adalah menahan diri dari semua perkara yang membatalkan puasa seperti makan dan minum dengan sengaja, jima’ di siang hari, haidl dan nifas, muntah dengan sengaja dan murtad dari agama islam. Kaidah yang hendaknya kita ketahui adalah bahwa tidak boleh kita mengklaim bahwa sesuatu itu membatalkan puasa kecuali dengan dalil syari’at yang shahih. Barang siapa yang yang melakukan pembatal-pembatal puasa dengan sengaja maka tidak bermanfaat baginya qodlo, kewajiban ia adalah bertaubat kepada Allah. Sedangkan bila ia melakukannya karena udzur maka hendaklah ia mengqodlo.

Adapun syarat-syarat wajibnya puasa ada enam yaitu: Muslim, baligh, berakal, mempunyai kemampuan untuk berpuasa, muqim tidak safar, dan tidak haidl dan nifas.

 

2. Qiyam ramadlan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.   رواه البخاري ومسلم

Dari abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang qiyamulail di bulan ramadlan karena iman dan berharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Bukhari dan muslim).

Qiyam Ramadlan adalah ibadah yang berpahala besar yang senantiasa dirutinkan oleh para shahabat dan generasi setelahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah  melakukannya secara berjama’ah selama tiga malam, lalu beliau tinggalkan karena khawatir di wajibkan atas umatnya. Imam Abdurrazzaq meriwayatkan dalam mushannafnya (2/264 no 7746) dengan sanad yang shahih kepada Aisyah rdliyallahu ‘anha, ia berkata:

صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لَيْلَةً فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي الْمَسْجِدِ وَمَعَهُ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى الثَّانِيَةَ فَاجْتَمَعَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ أَكْثَرَ مِنَ الْأُوْلَى فَلَمَّا كَانَتِ الثَّالِثَةَ أَوْ الرَّابِعَةَ امْتَلَأَ الْمَسْجِدُ حَتَّى غَصَّ بِأَهْلِهِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ فَجَعَلَ النَّاسُ يُنَادُوْنَهُ الصَّلَاةَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ مَا زَالَ النَّاسُ يَنْتَظِرُوْنَكَ الْبَارِحَةَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ أَمَا أَنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ أَمْرُهُمْ وَلَكِنِّيْ خَشِيْتُ أَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِمْ.

 “Suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di bulan Ramadlan di masjid bersama beberapa orang. Di malam kedua beliau kembali shalat, dan orang-orang yang ikut shalat lebih banyak dari malam pertama. Ketika di malam ketiga atau keempat, masjid menjadi penuh sampai-sampai beliau masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar. Maka orang-orang memanggil beliau, “Shalat !” Di pagi harinya, Umar bin Al Khathab berkata, “Tadi malam orang-orang menunggumu hai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Perbuatan mereka tidak tersembunyi bagiku, akan tetapi aku khawatir di wajibkan atas mereka.”

Dan dalam hadits Abu Dzarr, beliau berkata:

صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلَاحَ قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ

“Kami berpuasa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak sholat malam (berjama’ah) dengan kami sampai tersisa tujuh hari dari bulan Ramadlan. Maka beliau qiyam (pada malam 23) bersama kami hingga lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak qiyam dengan kami pada enam hari tersisa, dan kembali qiyam dengan kami pada lima hari tersisa (malam 25) hingga lewat tengah malam. Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana bila sisa malam ini kita gunakan untuk shalat sunnah ?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang sholat bersama imam sampai selesai, maka dituliskan untuknya sholat semalam suntuk”.

Kemudian beliau tidak qiyam bersama kami sampai tersisa tiga hari bulan Ramadlan, beliau memanggil istri-istrinya dan keluarganya, beliau pun qiyam dengan kami (di malam 27) hingga kami khawatir tidak sempat melakukan al falah. Aku berkata: “Apa itu al Falah ?” ia berkata: “Sahur”. (HR At Tirmidzi, ibnu Majah, ibnu Hibban, ibnu Khuzaimah dan lainnya. At Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih”.)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa orang yang qiyam bersama imam sampai selesai, dituliskan untuknya shalat semalam suntuk. Ini adalah keutamaan yang besar bagi orang yang melakukannya. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Rasulullah dan para shahabat melakukan shalat tarawih di awal malam, bukan di akhir malam dan itulah waktu yang paling utama untuk shalat tarawih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qiyam ramadlan secara berjama’ah hanya tiga malam saja karena beliau khawatir di wajibkan atas umatnya. Namun setelah wafat, tidak mungkin lagi wahyu turun dan tidak mungkin diwajibkan. Oleh karena itu Umar memandang untuk kembali dilaksanakan qiyam ramadlan dengan satu imam. Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari Abdurrahman bin Al Qari ia berkata:

خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ: إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبَدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُوْنَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُوْمُوْنَ يُرِيْدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ.

“Aku keluar bersama Umar bin Al Khathab radliyallahu ‘anhu suatu malam di bulan Ramadlan menuju masjid. Ternyata manusia berpencar pencar; ada yang shalat sendirian, dan ada yang berjamaah dengan beberapa orang. Umar berkata: “Aku memandang seandainya dikumpulkan kepada satu imam saja, tampaknya lebih bagus.” Kemudian beliau bertekad kuat melakukannya. Di malam yang lain, aku keluar bersamanya, sementara manusia shalat berjama’ah dengan imam mereka. Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Dan waktu yang biasa mereka tidur padanya lebih baik dari yang mereka bangun padanya[6]”. Maksudnya akhir malam dan dahulu mereka melakukannya di awal malam.

Perkataan Umar: “Sebaik-baiknya bid’ah”. Maksudnya adalah bid’ah secara bahasa, dan bukan bid’ah secara istilah. Karena bagaimana mungkin disebut bid’ah secara istilah sementara perbuatan itu pernah dilakukan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah meninggalkannya karena khawatir diwajibkan atas umatnya sedangkan kaidah berkata: “Suatu ibadah yang pernah dilakukan oleh Rasulullah, kemudian ditinggalkan oleh beliau karena khawatir diwajibkan, maka boleh melakukannya setelah Rasulullah wafat, karena alasan khawatir diwajibkan telah hilang.

 

Jumlah raka’at qiyamullail.

Disunnahkan tidak melebihi sebelas raka’at, karena itu yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dirinya dan yang paling utama, sebagaimana dalam hadits Aisyah radliyallahu ‘anha:

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً : يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah lebih dari sebelas raka’at baik di bulan Ramadlan maupun di bulan lain, beliau sholat empat jangan kamu tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat jangan kamu tanya btentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat tiga.” HR Bukhari dan Muslim.

Namun apakah boleh melebihi sebelas raka’at? Ini menjadi perselisihan diantara para ulama; mayoritas ulama salaf dan belakangan berpendapat boleh lebih dari sebelas raka’at, bahkan Al Qadli ‘Iyadl berkata, “Tidak ada perselisihan diantara ulama bahwa shalat malam tidak ada batasannya dimana tidak boleh ditambah atau dikurangi, karena shalat malam adalah termasuk ketaatan yang apabila bertambah maka bertambah pula pahalanya. Yang menjadi perselisihan adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan pilihan beliau untuk dirinya sendiri.”

Pendapat yang penulis pilih adalah pendapat mayoritas ulama yang membolehkan lebih dari sebelas raka’at, berdasarkan hadits:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“Shalat malam itu dua raka’at dua raka’at, apabila salah seorang darimu khawatir masuk shubuh, hendaklah ia shalat satu raka’at witir sebagai pengganjil shalatnya.” HR Bukhari dan Muslim.

Hadits ini mutlak tidak memberikan batasan jumlah, adapun hadis Aisyah di atas tidak dapat mengkhususkan keumuman hadits ini karena beberapa alasan:

Pertama: Hadits Aisyah itu menceritakan tentang perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan perbuatan tidak bisa mengkhususkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana disebutkan dalam kitab ushul fiqih.

Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan agar shalat malam hanya sebelas raka’at saja, namun sebatas perbuatan beliau sedangkan semata-mata perbuatan hanya menghasilkan hukum sunnah.

Ketiga: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melarang melebihi sebelas raka’at, oleh karena itu Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Qiyam Ramadlan tidak ditentukan oleh Nabi jumlah tertentu, beliau hanya tidak menambah melebihi tiga belas raka’at di bulan Ramadlan maupun di bulan lainnya… siapa yang meyakini bahwa jumlah qiyam Ramadlan ditentukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang maka ia telah salah.”[7]



[1] No 644 dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah.

[2] Dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani dalam shahih targhib no 984.

[3] No 1690 dan Syaikh Al Bani berkata, “Hasan shahih.”

[4] No 1804.

[5] No 1996 dan pentahqiqnya yaitu Syaikh Al A’zami berkata, “Shahih.”

[6] Maksud Umar adalah bahwa shalat tarawih di awal malam lebih utama dari shalat tarawih di akhir malam. Karena di luar Ramadlan, para shahabat biasa tidur di awal malam dan bangun pada sepertiga malam. Ini menunjukkan bahwa waktu shalat tarawih yang paling utama adalah di awal malam, sebagaimana juga ditunjukkan oleh perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits di atas.

[7] Majmu’ fatawa 27/272-273.

janabah

Pengertian Janabah

Firman Allah Ta’ala:

  و إن كنتم جنبا فاطهروا

Dan jika kamu junub maka mandilah“.

Janabah adalah untuk dua orang :

Pertama: Orang yang keluar mani walaupun dengan tanpa jima’, berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنْ الْمَاءِ

Sesungguhnya air (mandi) itu karena air (mani)“. (HR Muslim).[1]

Dan mengeluarkan mani ada dua keadaan :

  1. Keadaan sadar
    Orang yang mengeluarkan mani dalam keadaan sadar, syarat wajibnya mandi adalah apabila keluarnya dengan syahwat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

    إِذَا فَضَخْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ

    “Apabila engkau melemparkan air mani maka mandilah”. (HR Abu Dawud dan An Nasai).[2]

    Dan di dalam riwayat Ahmad dalam musnadnya[3] dengan lafadz :

    إِذَا حَذَفْتَ فَاغْتَسِلْ مِنْ الْجَنَابَةِ وَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلَا تَغْتَسِلْ

    “Apabila engkau melemparkan (mani) dari janabah mandilah, dan apabila tidak maka tidak perlu mandi”.

    Dan melemparkan mani tidak akan terjadi bila tanpa syahwat sebagaimana firman Allah:

    خلق من ماء دافق

    “Diciptakan dari air yang terpancar”. (Ath Thariq : 6).

    Dan apabila ia mengeluarkan maninya dengan tanpa syahwat, namun karena sakit dan sebagainya, maka tidak ada kewajiban mandi baginya, dan ini adalah pendapat jumhur ulama dan itulah yang rajih,  Wallahu a’lam.

  2. Dalam keadaan tidur (mimpi).
    Orang yang mengeluarkan mani dalam keadaan tidur wajib mandi walaupun dengan tanpa syahwat, sebagaimana dalam hadits Aisyah radliyallahu ‘anha ia berkata :

    سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ وَلَا يَذْكُرُ احْتِلَامًا قَالَ يَغْتَسِلُ وَعَنْ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدْ احْتَلَمَ وَلَا يَجِدُ الْبَلَلَ قَالَ لَا غُسْلَ عَلَيْهِ

    “Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam ditanya tentang seorang laki-laki mendapati basah dan tidak ingat mimpi, beliau menjawab: “Hendaklah ia mandi”. Dan ditanya tentang seorang laki-laki bermimpi namun tidak mendapatkan basah, beliau menjawab: “Tidak ada mandi untuknya”.
    Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (233) dan At Tirmidzi (113) dengan sanad yang lemah karena dalam sanadnya ada Abdullah bin Umar Al Umari seorang perawi yang dla’if, namun makna hadits ini dikuatkan oleh hadits Ummu Salamah ia berkata:

    جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِي طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ إِذَا رَأَتْ الْمَاءَ

    “Ummu Sulaim istri Abu Thalhah datang kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, apakah wanita wajib mandi jika bermimpi ?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iya, apabila ia melihat air (mani)”. (HR Bukhari dan Muslim).[4]

    Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang bermimpi dan melihat air mani maka wajib baginya mandi janabah, dan mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) hadits ini menunjukkan bahwa apabila ia tidak melihat air maka tidak wajib mandi. Dan sabda beliau : “Apabila ia melihat air (mani)”. Menunjukkan bahwa wajibnya mandi bagi orang yang bermimpi tergantung kepada melihat air mani atau tidak, baik mengeluarkannya dengan syahwat maupun tidak, karena lafadznya mutlak, wallahu a’lam.

Kedua : Bertemunya kemaluan laki-laki dan wanita (jima’) walaupun tidak mengeluarkan air mani.

Batasan pertemuan dua kemaluan adalah apabila kepala kemaluan pria masuk ke dalam kemaluan wanita, dan ini dengan ijma’ para ulama. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Dan bertemunya dua khitan yakni lenyapnya kepala kemaluan pria dalam kemaluan wanita, karena inilah yang mewajibkan mandi, sama saja apakah keduanya berkhitan ataupun tidak… jika kemaluan (pria) hanya menempel di kemaluan (wanita) dengan tanpa masuk maka tidak wajib mandi dengan kesepakatan ulama”.[5]

Bertemunya kemaluan laki-laki dan wanita mewajibkan mandi berdasarkan hadits :

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ

“Apabila ia duduk (jima’) diantara cabangnya yang empat kemudian bersungguh-sungguh maka wajib baginya mandi”. (HR Bukhari dan Muslim)[6] dan dalam riwayat Muslim ada tambahan: “Walaupun ia tidak mengeluarkan mani”.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَت إِنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ

“Dari Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang suami yang menyetubuhi istrinya, kemudian malas (tidak mengeluarkan mani), apakah keduanya wajib mandi? sementara Aisyah sedang duduk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku melakukan demikian dengan wanita ini (Aisyah) kemudian kami mandi”. (HR Muslim).[7]

Dan ini adalah madzhab jumhur ulama yaitu bertemunya kemaluan pria dan wanita walaupun tidak mengeluarkan mani, dan itulah yang rajih.


[1] Muslim no 343, tarqim Muhamad Fuad Abdul Baqi.

[2] Abu Dawud no 206 dan An Nasai no 193 dari Ali bin Abi Thalib. Qultu : Sanadnya hasan semua perawinya tsiqah kecuali ‘Abiidah bin Humaid, Al Hafidz berkata: “Shoduq rubama akhtho”. Namun hadits ini mempunyai jalan lain dari Ali yang dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya dengan sanad yang hasan sebagaimana yang akan disebutkan, sehingga hadits ini terangkat menjadi shahih.

[3] Musnad Ahmad bin Hanbal no 847 ta’liq Syu’aib Al Arnauth. Qultu : sanadnya hasan semua perawinya tsiqah kecuali Rizam bin Sa’id, Al Hafidz berkata: “Shoduq”. Dan hadits ini menjadi shahih dengan jalan sebelumnya. Wallahu a’lam.

[4] Bukhari no 282 dan Muslim no 313.

[5] Ibnu Qudamah, Al Mughni 1/271.

[6] Bukhari no 291, dan Muslim no 348.

[7] Muslim no 350.

merujuk-ulama

Takhrij Hadits: Sajada Wajhi (Do’a Sujud Tilawah)


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي سُجُودِ الْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ يَقُولُ فِي السَّجْدَةِ مِرَارًا سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ

“Dari Aisyah radliyallahu ‘anha ia berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata dalam sujud Al Qur’an di waktu malam berkali-kali: “Sajada wajhii lilladzi khalaqahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu bihaulihi waquwwatihi“.

Hadits ini dikeluarkan Abu Dawud dari jalan Isma’il bin ‘Ulayyah haddatsana Khalid Al Hadzaa dari seorang laki-laki dari Abul ‘Aliyah dari Aisyah. Qultu (Abu Yahya): “Sanad ini lemah karena terdapat perawi yang mubham (tidak disebutkan namanya)”.

Akan tetapi Isma’il bin Ulayyah ini diselesihi sejumlah perawi lain yang tsiqat yang meriwayatkan dari Khalid dari Abul ‘Aliyah dari Aisyah tanpa menyebutkan lelaki yang mubham tersebut. Mereka adalah Abdul Wahhab Ats Tsaqafi yang dikeluarkan oleh An Nasai dalam Al Kubra (714) dan lainnya haddatsana Khalid Al Hadzaa dari Abul ‘Aliyah dari Aisyah radliyallahu ‘anha.

Demikian juga Wuhaib bin Khalid dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya (800) dan Sufyan bin Habib dikeluarkan oleh Ad Daraquthni dalam sunannya (no 2), dan Husyaim bin Basyiir dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam mushannafnya (no 4405) semuanya meriwayatkan dari Khalid Al Hadzaa dari Abul ‘Aliyah dari Aisyah tanpa menyebutkan lelaki yang mubham tersebut.

Sehingga periwayatan Isma’il bin ‘Ulayyah seakan bertentangan dengan periwayatan empat perawi tsiqat di atas, oleh karena itu sebagian ulama menganggap bahwa periwayatan Isma’il bin Ibrahim ini termasuk periwayatan yang syadz, dan bahwa yang shahih adalah periwayatan empat perawi yang tsiqat karena mereka jumlahnya lebih banyak. (Shahih Sunan Abi Dawud).

Namun menurut hemat saya periwayatan Isma’il bin ‘Ulayyah ini tidak bisa dianggap syadz karena empat alasan:

Pertama: Khalid Al Hadzaa meriwayatkan dari Abul ‘Aliyah dengan lafadz ‘an yang artinya: “Dari”. Dan lafadz ini tidak gamblang menunjukkan kebersambungan sanad, kecuali bila Khalid meriwayatkannya dengan lafadz haddatsana Abul ‘Aliyah.

Kedua: Al Hafidz ibnu Hajar mensifati Khalid ini sebagai perawi yang tsiqah namun banyak memursalkan sanad, dan sanad ini ada kemungkinan dimursalkan oleh Khalid pada periwayatan empat orang di atas.

Ketiga: Imam Ahmad mengatakan bahwa Khalid Al Hadzaa tidak mendengar dari Abul ‘Aliyah sebagaimana yang dinukil oleh ibnu Hajar dalam Taqributtahdzib (3/105).

Oleh karena itu ibnu Khuzaimah berkata: “Sesungguhnya aku meninggalkan khabar Abul ‘Aliyah dari ‘Aisyah.. karena antara Khalid dan Abul ‘Aliyah ada seorang perawi yang tidak disebutkan namanya”. (Shahih ibnu Khuzaimah 1/283).

Empat: Isma’il bin ‘Ulayyah adalah perawi yang sangat tsiqah, maka tidak semudah itu untuk menyalahkan imam ini, terlebih bila kita perhatikan lafadz periwayatannya yaitu dengan lafadz ‘an yang mengandung kemungkinan antara mendengar dan tidak.

Dan Al Hafidz ibnu Hajar condong kepada pendapat ini dalam kitabnya”Nataijul afkaar (2/111), beliau berkata setelah menyebutkan perkataan ibnu Khuzaimah: “Aku keluarkan hadits ini agar para penuntut ilmu hadits tidak tertipu dan menganggapnya shahih padahal tidak demikian karena Khalid Al Hadzaa tidak mendengar dari Abul ‘Aliyah namun antara kedua antara perantara seorang perawi”.

Beliau berkata: “Beliau (ibnu Khuzaimah) mengisyaratkan kepada riwayat Isma’il bin ‘Ulayyah haddatsana Khalid Al Hadzaa dari seseorang dari Abul ‘Aliyah. ‘illat ini tersembunyi pada At Tirmidzi sehingga beliau menshahihkannya, dan ibnu Hibbanpun tertipu oleh lahiriahnya dimana beliau mengeluarkan dalam shahihnya dari ibnu Khuzaimah, dan Al Hakim juga ikut menshahihkannya, seakan-akan keduanya lupa kepada perkataan guru mereka (yaitu ibnu Khuzaimah), dan Ad Daraquthni menyebutkan perselisihan ini dalam ‘ilalnya…”.

Qultu (Abu Yahya): “Ad Daraquthni dalam ‘ilalnya (14/395) menyebutkan perselisihan ini dan dan mengatakan bahwa periwayatan Isma’il bin ‘ulayyah yang benar”. Sehingga hadits ini dla’if.

Namun Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah dalam nataijul afkar menyatakan bahwa hadits ini hasan karena mempunyai syahid dari hadits Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: “Aku katakan hadits ini hasan karena ia mempunyai syahid dari hadits Ali walaupun untuk sujud secara mutlak”. (Nataijul afkaar 2/111).

Qultu (Abu Yahya): “Hadits Ali yang dimaksud lafadznya adalah:

وَإِذَا سَجَدَ قَالَ اللَّهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“..Dan apabila beliau sujud membaca: “Allahumma laka sajadtu wa bika aamantu walaka aslamtu sajada wajhii lilladzii khlaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu tabarakallahu ahsanul Khaliqin”. Yang artinya: “Ya Allah untuk-Mu aku bersujud, kepada-Mu aku beriman dan aku serahkan diriku kepada-Mu, telah sujud wajahku kepada yang telah menciptakannya, membentuk rupanya, memberikan pendengaran dan penglihatannya, Maha mulia Allah pencipta yang paling baik”. (HR Mslim).

Ini menunjukkan kepada kefaqihan Al Hafidz yang menjadikan hadits Ali ini sebagai syahid yang menguatkan hadits ‘Aisyah, padahal hadits Ali bila kita perhatikan adalah untuk sujud secara mutlak. Al Hafidz memahami bahwa hadits Aisyah walaupun untuk sujud tilawah secara khusus namun ia masuk ke dalam kemutlakkan sujud dalam hadits Ali bin Abi Thalib.

Kepada pendapat ini saya condong, karena ini sama saja seperti si Ahmad contohnya menghikayatkan perkataan si Zaid yang berkata: “Apabila sifulan mengambil baju maka ia mendapat sangsi”. Sedangkan si Umar menghikayatkan dari si Zaid: “Apabila si fulan mengambil baju kemeja maka akan saya pukul”. Tentu perkataan si Umar ini tidak bertentangan dengan perkataan si Ahmad dan boleh kita katakan bahwa perkataan si Ahmad menguatkan perkataan si Umar walaupun perkataan si Ahmad bersifat mutlak. Wallahu a’lam.

Fiqih hadits

Setelah kita memaparkan derajat hadits ini dan bahwasannya yang rajih adalah hadits ini berderajat hasan, maka disunnahkan kita membaca dzikir ini ketika melakukan sujud tilawah.

hadis

Bagaimana Para Ulama Menjaga Hadits

Allah telah berjanji untuk menjaga Adz Dzikra dalam firman-Nya :

إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz Dzikra dan kamilah yang akan menjaganya”. (QS Al Hijir : 9).

Dan masuk ke dalam makna Adz Dzikra adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena Allah Ta’ala berfirman dalam ayat lain :

وأنزلنا إليك الذكر لتبين للناس ما نزل إليهم ولعلهم يتفكرون

“Dan Kami telah menurunkan Adz Dzikra agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang diturunkan kepada mereka dan agar mereka berfikir”. (QS An Nahl : 44).

Ayat ini menunjukkan bahwa Adz Dzikra yang dimaksud adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena ia berfungsi menjelaskan Al Qur’an yang diturunkan kepada mereka.         Di antara cara Allah menjaga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan adanya sanad yaitu rantai perawi yang menyampaikan kepada matan hadits, oleh karena itu perhatian para ulama terhadap sanad hadits sangat besar. Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:

الْإِسْنَادُ مِنْ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu termasuk agama, kalau bukan karena sanad orang akan seenaknya menisbatkan (kepada Nabi) apa yang ia mau”.[1]

Para ulama telah menyingsingkan lengan mereka bersungguh-sungguh membela hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka memeriksa sanad-sanad hadits dengan cara yaitu :

Pertama : Mengenal sejarah perawi hadits.

Maksudnya adalah nama, kunyah, gelar, nisbat, tahun kelahiran dan kematian, guru-guru dan muridnya, tempat-tempat yang dikunjunginya, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan sejarah perawi tersebut, sehingga dari sini dapat diketahui sanad yang bersambung dengan sanad yang tidak bersambung seperti mursal[2], mu’dlal[3], mu’allaq[4], munqathi’[5] dan diketahui pula perawi yang majhul ‘ain[6] atau hal[7] juga kedustaan seorang perawi.

Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata: “Ketika para perawi menggunakan dusta, maka kami gunakan sejarah untuk (menyingkap kedustaan) mereka”.[8]

‘Ufair bin Ma’dan Al kila’I berkata: “Datang kepada kami Umar bin Musa di kota Himish, lalu kami berkumpul kepadanya di masjid, maka ia berkata: “Haddatsana (telah bercerita kepada kami) syaikh kalian yang shalih, ketika ia telah banyak berkata demikian, aku berkata kepadanya: “Siapakah syaikh kami yang shalih itu, sebutkanlah namanya agar kami dapat mengenalinya”.

Ia berkata: “Khalid bin Ma’dan”.

Aku berkata: “Tahun berapa engkau bertemu dengannya ?”

Ia menjawab: “Tahun 108H”.

Aku berkata: “Di mana engkau bertemu dengannya ?”

Ia menjawab: “Di perang Armenia”.

Aku berkata kepadanya: “Bertaqwalah engkau kepada Allah dan jangan berdusta!! Khalid bin Ma’dan wafat pada tahun 104H dan tadi engkau mengklaim bertemu dengannya pada tahun 108H, dan aku tambahkan lagi untukmu bahwa ia tidak pernah mengikuti perang Armenia, namun ia ikut perang melawan Romawi”.[9]

Abul Walid Ath Thayalisi berkata: “Aku menulis dari Amir bin Abi Amir Al Khozzaz, suatu hari ia berkata: “Haddatasana ‘Atha bin Abi Rabah”.

Aku berkata kepadanya: “Tahun berapa engkau mendengar dari ‘Atha ?”

Ia menjawab: “Pada tahun 124H”.

Aku berkata: “‘Atha meninggal antara tahun 110-119H”.[10]

Kedua : Memeriksa riwayat-riwayat yang dibawa oleh perawi dan membandingkannya dengan perawi lain yang tsiqah (terpercaya) baik dari sisi sanad maupun matan.

Dengan cara ini dapat diketahui kedlabitan (penguasaan) seorang perawi sehingga dapat divonis sebagai perawi yang tsiqah atau bukan, dengan cara ini pula dapat diketahui jalan-jalan sebuah periwayatan dan matan-matannya sehingga dapat dibedakan antara riwayat yang shahih, hasan, dla’if, syadz[11], munkar[12], mudraj[13], juga dapat mengetahui illat (penyakit) yang dapat mempengaruhi keabsahan riwayatnya dan lain sebagainya. Diantara contohnya adalah :

Khalid bin Thaliq bertanya kepada Syu’bah: “Wahai Abu Bistham, sampaikan kepadaku hadits Simak bin Harb mengenai emas dalam hadits ibnu Umar”.

Ia menjawab: “Semoga Allah meluruskanmu, hadits ini tidak ada yang meriwayatkannya secara marfu’[14] kecuali Simak”.

Khalid berkata: “Apakah engkau takut bila aku meriwayatkannya darimu ?”

Ia menjawab: “Tidak, akan tetapi Qatadah menyampaikan kepadaku dari Sa’id bin Musayyib dari ibnu Umar secara mauquf[15], dan Ayyub mengabarkan kepadaku dari Nafi’ dari ibnu Umar secara mauquf juga, demikian juga Dawud bin Abi Hindin menyampaikan kepadaku dari Sa’id bin Jubair secara mauquf juga, ternyata dimarfu’kan oleh Simak, makanya aku khawatir pada (riwayat)nya”.[16]

Kisah ini menunjukkan bahwa para ulama hadits mengumpulkan semua jalan-jalan suatu hadits dan membandingkan satu sama lainnya dengan melihat derajat ketsiqahan para perawi; mana yang lebih unggul dan mana yang tidak sehingga dapat diketahui penyelisihan seorang perawi dalam periwayatannya, dan ini sangat bermanfaat sekali untuk menyingkap illat (penyakit) sebuah hadits dan kesalahan-kesalahan perawi dalam meriwayatkan hadits.

Yahya bin Ma’in pernah datang kepada ‘Affan untuk mendengar kitab-kitab Hammad bin Salamah, lalu ‘Affan berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak pernah mendengarnya dari seorangpun ?”

Ia menjawab: “Ya, Aku mendengar dari tujuh belas orang dari Hammad bin Salamah.

‘Affan berkata: “Demi Allah, aku tidak akan menyampaikannya kepadamu”.

Berkata Yahya: “Ia hanya mengharapkan dirham”. Lalu Yahya bin Ma’in pergi menuju Bashrah dan datang kepada Musa bin Isma’il, Musa berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak pernah mendengar kitab-kitabnya dari seorangpun ?”

Yahya menjawab: “Aku mendengarnya dari tujuh belas orang dan engkau yang kedelapan belas”.

Ia berkata: “Apa yang engkau lakukan dengan itu ?”

Yahya menjawab: “Sesungguhnya Hammad bin Salamah terkadang salah maka aku ingin membedakan antara kesalahannya dengan kesalahan orang lain, apabila aku melihat ashhabnya (para perawi yang sederajat dengannya) bersepakat pada sesuatu, aku dapat mengetahui bahwa kesalahan berasal dari Hammad, dan apabila mereka semua bersepakat meriwayatkan sesuatu darinya namun salah seorang perawi darinya menyalahi periwayatan perawi-perawi lain yang sama-sama meriwayatkan dari Hammad, aku dapat mengetahui bahwa kesalahan itu dari perawi tersebut bukan dari Hammad, dengan cara itulah aku dapat membedakan kesalahan Hammad dengan kesalahan orang lain terhadap Hammad”.[17]

Subhanallah ! demikianlah Allah menjaga agama ini dengan adanya para ulama yang amat semangat dalam menelusuri periwayatan hadits dan membedakan antara periwayatan yang benar dari periwayatan yang salah. Dengan mengumpulkan jalan-jalan hadits dapat diketahui pula mutaba’ah[18] dan syawahid[19] serta kesalahan matan[20] hadits yang bawakan oleh seorang perawi.

Abu Hatim Makki bin Abdan berkata: “Aku mendengar Muslim bin Hajjaj berkata: “(contoh) kabar yang dinukil namun salah dalam matannya : Haddatsani Al Hasan Al Hulwani dan Abdullah bin Ubaidullah Ad Darimi, keduanya berkata: “Haddatsana Ubaidullah bin Abdul Majid haddatsana Katsir bin Zaid, haddatsani Yazid bin Abi Ziyad dari Kuraib dari ibnu Abbas ia berkata: “Aku pernah bermalam di rumah bibiku Maimunah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbaring di atas panjangnya bantal dan aku berbaring pada lebarnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dan berwudlu sedangkan kami masih tidur, kemudian beliau berdiri shalat. Akupun berdiri di sebelah kanannya, maka beliau menjadikan aku di sebelah kirinya…Al Hadits.

Muslim berkata: “Kabar ini salah dan tidak mahfudz (syadz), karena banyaknya kabar-kabar yang shahih yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqat yang menyebutkan bahwa ibnu Abbas berdiri di sebelah kiri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dipindahkan ke sebelah kanan beliau dan ini menyelisihi kabar tadi. Demikian pula sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam seluruh kabar dari ibnu Abbas bahwa seseorang berdiri di sebelah kanan imam bukan disebelah kirinya”.

Beliau berkata lagi: “Insya Allah kami akan menyebutkan periwayatan ashhab (para perawi yang meriwayatkan) dari Kuraib dari ibnu Abbas, kemudian setelah itu kami akan menyebutkan para perawi yang meriwayatkan dari ibnu Abbas yang sesuai dengan riwayat Kuraib :

Haddatsana ibnu Abi Umar haddatsana Sufyan dari Amru bin Dinar dari Kuraib dari ibnu Abbas bahwa ia bermalam di rumah Maimunah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun di waktu malam dan berwudlu. Ibnu Abbas berkata: “Lalu aku bangun dan melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian aku datang dan berdiri di sebelah kirinya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan aku di sebelah kanannya.

Dan Makhramah bin Sulaiman meriwayatkan dari Kuraib demikian.

Dan Salamah bin Kuhail dari Abu Risydin.

Dan Salamah dari Kuraib.

Dan Salim bin Abil ja’ad dari Kuraib.

Dan Husyaim dari Abu Bisyir dari Sa’id bin Jubair dari ibnu Abbas.

Dan Ayyub dari Abdullah dari ayahnya.

Dan Al Hakam dari Sa’id bin Jubair.

Dan ibnu Juraij dari ‘Atha.

Dan Qais bin Sa’ad dari ‘Atha.

Dan Abu Nadlrah dari ibnu Abbas.

Dan Asy Sya’bi dari ibnu Abbas.

Dan Thawus dari Ikrimah dari ibnu Abbas.

Muslim berkata: “Maka dengan apa yang kami sebutkan ini dari kabar-kabar yang shahih dari Kuraib dan semua perawi dari ibnu Abbas, menjadi jelas kesalahan riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memindahkan ibnu Abbas ke sebelah kirinya”.[21]

Ketiga : Merujuk buku asli perawi hadits.

Cara ini digunakan oleh para ahli hadits untuk mengetahui kebenaran seorang perawi yang mengaku mendengar dari seorang syaikh, mereka meneliti dengan seksama buku asli perawi tersebut bahkan diperiksa juga kertasnya, tintanya dan tempat penulisannya.

Zakaria bin Yahya Al Hulwani berkata: “Aku melihat Abu Dawud As Sijistani telah memberikan tanda kepada hadits Ya’qub bin Kasib di punggung kitabnya, maka kami bertanya mengapa ia melakukan itu?

Ia menjawab: “Kami melihat di musnadnya hadits-hadits yang kami ingkari, lalu kami meminta buku aslinya namun ia menolak, beberapa waktu kemudian ia mengeluarkan bukunya, ternyata kami dapati hadits-hadits tersebut tampak dirubah dengan (bukti) tinta yang masih baru yang tadinya hadits-hadits tersebut mursal tetapi ia menjadikannya musnad[22] dan diberikan tambahan padanya”.[23]

Keempat : Memeriksa lafadz dalam menyampaikan hadits.

Ketika menyampaikan hadits, para perawi menggunakan lafadz-lafadz sesuai dengan keadaan ia mengambil hadits tersebut, bila ia mendengar langsung dari mulut syaikh atau syaikh yang membacakan kepadanya hadits, biasanya digunakan lafadz “Haddatsana” dan bila dibacakan oleh murid kepada Syaikh biasanya menggunakan “Akhbarona” atau “Anbaana” dan ini semua lafadz-lafadz yang menunjukkan bahwa si perawi mendengar langsung dari Syaikh, dan ada juga lafadz-lafadz yang mengandung kemungkinan mendengar langsung atau tidak, seperti lafadz ‘an fulan (dari si fulan) atau qola fulan (berkata si fulan), lafadz seperti ini bisa dihukumi bersambung dengan dua syarat :

1. Memungkinkan bertemunya perawi itu dengan syaikhnya, seperti ia satu zaman dengan syaikhnya dan lain-lain.

2. Perawi tersebut bukan mudallis[24].

Bila salah satu dari dua syarat ini tidak terpenuhi maka sanadnya dianggap tidak bersambung atau lemah.

Kelima : Memeriksa ketsiqahan perawi-perawi hadits.

Pemeriksaan para perawi hadits berporos pada dua point penting[25] yaitu :

  1. Kepribadian perawi dari sisi agama dan akhlaknya, atau yang disebut dalam ilmu hadits dengan ‘adaalah (adil).

Perawi yang adil menurut istilah ahli hadits adalah seorang muslim, baligh dan berakal, selamat dari sebab-sebab kefasiqan dan khowarim al muru’ah (adab-adab yang buruk). Dan sebab-sebab kefasiqan ada dua yaitu maksiat dan bid’ah. Dan kefasiqan yang merusak seorang perawi adalah fasiq karena maksiat (dosa besar) seperti minum arak, berzina, mencuri dan lain-lain.

Adapun bid’ah, para ulama berbeda pendapat dalam menyikapinya, diantara mereka ada yang menolak perawi ahlul bid’ah secara mutlak, dan diantara mereka ada yang menerimanya selama tidak menghalalkan dusta dan diantara mereka ada yang memberikan perincian-perincian tertentu seperti tidak menyeru kepada bid’ahnya, tidak meriwayatkan hadits yang mendukung bid’ahnya, dan lain-lain.

Namun bila kita perhatikan secara cermat bahwa sifat perawi yang diterima adalah kejujuran perawi (tidak menghalalkan dusta), amanah dan terpecaya agama dan akhlaknya. Dan bila kita periksa keadaan perawi-perawi yang melakukan bid’ah, banyak diantara mereka yang mempunyai sifat demikian dan mereka melakukan bid’ah bukan karena sengaja melakukannya atau menganggapnya halal, akan tetapi karena adanya ta’wil (syubhat) sehingga periwayatannya diterima oleh para ulama, berbeda jika si perawi mengingkari perkara agama yang mutawatir dan bersifat pasti dalam agama (dlaruri) atau meyakini kebalikannya, maka perawi seperti ini wajib ditolak periwayatannya[26]. Saya akan sebutkan beberapa perawi yang melakukan bid’ah namun diterima haditsnya :

Muhammad bin Rasyid, Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Tsiqah dan ia qadari (pengikut qadariyah[27]).[28]

Aban bin Taghlib, perawi yang tsiqah, dianggap tsiqah oleh imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in, dikatakan oleh ibnu ‘Adi: “Ekstrim dalam syi’ah”. Adz Dzahabi berkata: “Ia Syi’ah yang ekstrim namun shaduq (sangat jujur), maka untuk kita riwayatnya dan untuk dia kebid’ahannya”.[29]

Abdurrazaq bin Hammam Ash Shan’ani tsiqah hafidz namun mempunyai keyakinan syi’ah.

Abdul Majid bin Abdul ‘Aziz bin Abi Rawwad, dianggap tsiqah oleh ibnu Ma’in dan lainnya. Abu Dawud berkata: “Tsiqah menyeru kepada aqidah murji’ah”.[30]

Muhamad bin Imran Abu Abdillah Al Marzabani Al Katib shaduq tetapi ia mu’tazilah yang keras.[31]

 

Bagaimana mengetahui keadilan perawi.

Jumhur ahli hadits berpendapat bahwa keadilan perawi dapat diketahui dengan salah satu dari dua cara, yaitu :

Pertama : Terkenal keadilannya.

Maksudnya perawi itu masyhur dikalangan ahli hadits kebaikannya dan banyak yang memujinya sebagai perawi yang amanah dan tsiqah, maka ketenaran ini sudah mencukupi dan tidak lagi membutuhkan kepada saksi dan bukti, seperti imam yang empat, Syu’bah, Sufyan bin ‘Uyainah dan Sufyan Ats Tsauri, Yahya bin Ma’in dan lain-lain.

Kedua : Pernyataan dari seorang imam.

Bila seorang perawi tidak ditemukan pujian (ta’dil) kecuali dari seorang imam yang faham maka diterima ta’dilnya selama tidak ditemukan padanya jarh (celaan) yang ditafsirkan.[32]

 

  1. Periwayatan yang ia riwayatkan apakah ia menguasainya atau tidak, atau yang disebut dalam ilmu hadits dengan istilah dlabth dan itqan.

Ada dua cara yang digunakan oleh para ahli hadits untuk mengetahui kedlabitan perawi, yaitu:

  1. Membandingkan periwayatannya dengan periwayatan perawi-perawi lain yang terkenal ketsiqahan dan kedlabitannya.

Jika mayoritas periwayatannya sesuai walaupun dari sisi makna dengan periwayatan para perawi yang tsiqah tersebut dan penyelisihannya sedikit atau jarang maka ia dianggap sebagai perawi yang dlabit.

Dan jika periwayatannya banyak menyelisihi periwayatan perawi-perawi yang tsiqah tadi maka ia dianggap kurang atau cacat kedlabitannya dan tidak boleh dijadikan sebagai hujah. Akan tetapi jika si perawi tersebut mempunyai buku asli yang shahih dan ia menyampaikannya hanya sebatas dari buku bukan dari hafalannya maka periwayatannya dapat diterima.

  1. Menguji perawi.

Bentuk-bentuk ujian kepada perawi bermacam-macam diantaranya adalah dengan membacakan padanya hadits-hadits lalu dimasukkan di sela-selanya periwayatan orang lain, jika ia dapat membedakan maka ia adalah perawi yang tsiqah dan jika tidak dapat memebedakannya maka ia kurang ketsiqahannya. Diantaranya juga adalah membolak balik matan dan sanad sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli hadits Baghdad terhadap imam Bukhari.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum menguji perawi, sebagian ulama mengharamkannya seperti Yahya bin Sa’id Al Qathan dan sebagian lagi melakukannya seperti Syu’bah dan Yahya bin Ma’in. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah memandang bahwa menguji perawi adalah boleh selama tidak terus menerus dilakukan pada seorang perawi karena mashlahatnya lebih banyak dibandingkan mafsadahnya yaitu dapat mengetahui derajat seorang perawi dengan waktu yang cepat.[33]



[1] Muslim dalam muqadimah shahihnya.

[2] Mursal adalah perkataan Tabi’in: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda atau berbuat begini…”

[3] Mu’dlal adalah sanad yang digugurkan dua perawinya secara beruntun di akhir sanad.

[4] Mu’allaq adalah sanad yang digugurkan seorang perawi atau lebih secara beruntun di awal sanadnya.

[5] Munqathi’ adalah sanad yang terputus baik di awal, ditengah atau di akhirnya.

[6] Majhul ‘ain adalah perawi yang meriwayatkan darinya hanya seorang dan tidak ada ulama yang memujil dan mencelanya.

[7] Majhul hal adalah perawi yang meriwayatkan darinya hanya dua orang dan tidak ada pujian dan celaan dari para ulama.

[8] Al Kifayah hal 119.

[9] Al Kifayah hal 119.

[10] Mizanul I’tidal 2/360.

[11] Syadz adalah periwayatan perawi yang maqbul (diterima) yang bertentangan dengan periwayatan perawi lain yang lebih kuat darinya.

[12] Munkar adalah bersendiriannya seorang perawi yang lemah dalam meriwayatkan sebuah hadits atau menyalahi periwayatan perawi lain yang tsiqah.

[13] Mudraj adalah adanya tambahan yang bukan dari hadits, dan mudraj ini dapat diketahui dengan keberadaan tambahan tersebut secara terpisah dalam riwayat yang lain, atau pernyataan langsung dari perawi yang meriwayatkannya, atau pernyataan dari imam yang mengetahuinya, atau mustahil tambahan tersebut diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

[14] Marfu’ artinya meriwayatkannya sampai kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

[15] Mauquf artinya meriwayatkannya sampai kepada shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

[16] Muqadimah Al Jarhu watta’dil hal 158. Beliau khawatir riwayat Simak adalah periwayatan yang salah karena menyelisihi periwayatan perawi-perawi lain yang lebih tsiqah sehingga menjadi syadz.

[17] Lihat Manhaj Naqd ‘iendal muhadditsin karya Dr Muhammad Mushtafa Al A’dzami hal 69.

[18] Mutaba’ah artinya Jalan lain dari sebuah sanad yang shahabatnya sama dan bertemu dengan sanad pertama dari awal sanad (mutaba’ah sempurna) atau di tengah sanad (mutaba’ah qashirah).

[19] Syawahid artinya jalan lain dari sebuah hadits dengan shahabat yang berbeda, dimana matannya sama atau semakna.

[20] Matan adalah ujung sanad berupa perkataan Nabi atau shahabat atau lainnya.

[21] At Tamyiz hal 183-185 tahqiq Dr Muhamad Mushtafa Al A’dzami.

[22] Musnad artinya bersambung sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

[23] Mizanul I’tidal 1/451.

[24] Mudallis adalah perawi yang suka menggugurkan perawi yang lemah dari sanad antara ia dengan syaikhnya yang tsiqah dan banyak mengambil hadits dari syaikh tersebut, atau menggugurkan perawi yang lemah diantara dua syaikh yang tsiqah yang bertemu satu dengan lainnya agar terlihat sanadnya bersih dan tidak cacat.

[25] Manhaj Naqd ‘iendal muhadditsin hal 20.

[26] Lihat An Nukat ‘ala Nuzhatinadzar hal 137.

[27] Qadariyah adalah firqah sesat yang mengatakan bahwa taqdir tidak ada dan bahwa segala sesuatu tidak ditaqdirkan oleh Allah.

[28] Al Mughni 1/6.

[29] Mizanul I’tidal 1/5.

[30] Al Mughni 2/403.

[31] Al Mughni 2/620.

[32] Dlawabith Jarh watta’dil hal 21-22.

[33] Lihat Dlawabith Al Jarh watta’dil hal 35-37.

berwudhu

Wajibkah Mencuci Anggota Wudlu Secara Tertib ?

Para ulama bersepakat disyari’atkannya tertib (berurutan) di dalam berwudlu, namun mereka berselisih apakah hukumnya wajib atau sunnah menjadi dua pendapat[1] :

Pendapat pertama : hukumnya wajib, dan ini adalah salah satu pendapat Malik, madzhab Asy Syafi’I dan yang masyhur dari madzhab Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.

Pendapat kedua : Hukumnya sunnah, dan ini adalah madzhab Abu Hanifah dan yang masyhur dari madzhab Malik, dan dipilih oleh sejumlah ulama Syafi’iyah seperti Al Muzani, ibnul Mundzir dan Abu Nashr Al Bandaniji.

 

Dalil-dalil pendapat pertama :

Firman Allah Ta’ala :

 ياأيهالذين ءامنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤوسكم وأرجلكم إلى الكعبين

Wahai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak melakukan shalat maka cucilah wajahmu dan kedua tanganmu sampai siku-siku, dan usaplah kepalamu, dan (cucilah) kedua kakimu sampai dua mata kaki…“. (Al Maidah : 6).

Sisi pendalilannya adalah bahwa Allah Ta’ala memasukkan mengusap kepala diantara anggota badan yang dicuci, sedangkan kebiasaan orang arab apabila menyebutkan sesuatu yang sejenis dengan yang tidak sejenis, disebutkan dahulu yang sejenis kemudian setelah itu menyebutkan yang tidak sejenis, dan mereka tidak menyelisihi kebiasaan tersebut kecuali untuk sebuah faidah. Sedangkan dalam ayat ini Allah memasukkan kepala yang diusap diantara dua yang dicuci, dan tidak diketahui faidahnya kecuali dalam rangka tertib berurutan.

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

إِنَّهَا لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَغْسِلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ وَيَمْسَحَ بِرَأْسِهِ وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang dari kamu sampai ia menyempurnakan wudlu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Azza wa jalla; ia mencuci wajahnya, mencuci kedua tangannya sampai siku-siku, mengusap kepalanya, dan (mencuci) dua kakinya sampai mata kaki”.[2]

Sisi pendalilannya: Al Khathabi rahimahullah berkata: “Di dalamnya terdapat fiqih, yaitu bahwa tertib wudlu dan mendahulukan apa yang didahulukan oleh Allah di dalam Al Qur’an adalah wajib, dan ini adalah makna sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sampai ia menyempurnakan wudlu sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Azza wa jalla”. Kemudian menyebutkan setelahnya dengan huruf “fa” yang bermakna ta’qib (datang) tanpa terlambat”.[3]

Praktek para shahabat ketika mencontohkan tata cara wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara tertib. Diantaranya hadits ‘Utsman bin ‘Affan radliyallahu ‘anhu :

أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ دَعَا بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمِرْفَقِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ غَسَلَ الْيُسْرَى مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا

“Dari Humran maula ‘Utsman bahwa ‘Utsman meminta air wudlu lalu beliau berwudlu; beliau mencuci dua telapak tangannya tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istintsar, kemudian mencuci wajahnya tiga kali, kemudian mencuci tangan kanannya sampai siku-siku tiga kali, kemudian mencuci tangan kirinya seperti itu juga, kemudian mengusap kepalanya kemudian mencuci kaki kanannya sampai mata kaki tiga kali kemudian mencuci kaki kiri seperti itu juga kemudian berkata: “Aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu seperti wudluku ini”. (HR Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafadz Muslim).

Diantaranya juga hadits Abdullah bin zaid radliyallahu ‘anhu :

قِيلَ لَهُ تَوَضَّأْ لَنَا وُضُوءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِإِنَاءٍ فَأَكْفَأَ مِنْهَا عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفٍّ وَاحِدَةٍ فَفَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَغَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاسْتَخْرَجَهَا فَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ وُضُوءُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“dikatakan kepadanya,”Berwudlulah seperti wudlu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau meminta bejana lalu menuangkan air kepada dua telapak tangannya dan mencucinya tiga kali, kemudian memasukkan tangannya dan mengeluarkannya lalu berkumur-kumur dan istinsyaq dari satu telapak tangan, beliau lakukan itu tiga kali. Kemudian beliau memasukkan tangannya dan mengeluarkannya lalu mencuci wajahnya tiga kali kemudian memasukkan tangannya dan mengeluarkannya lalu mencuci dua tangannya sampai siku-siku dua kali dua kali, kemudian memasukkan tangannya dan mengeluarkannya lalu mengusap kepalanya dari depan kebelakang kemudian mencuci dua kakinya sampai mata kaki kemudian berkata: “Beginilah wudlu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. (HR Bukhari dan muslim dan ini adalah lafadz Muslim).

Sisi pendalilannya: Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan tertib dalam mencuci anggota wudlu, karena disitu digunakan kata “kemudian” pada seluruhnya”.[4]

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Semua shahabat yang menceritakan wudlu Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menceritakannya secara tertib, dan ia menafsirkan apa yang ada dalam kitabullah”.[5]

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Dan adalah wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dilakukan secara tertib dan muwalah (berturut-turut), dan beliau tidak pernah sekalipun menyalahinya (tidak tertib)”.[6]

 

Dalil-dalil pendapat kedua.

Firman Allah Ta’ala :

 ياأيهالذين ءامنوا إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق وامسحوا برؤوسكم وأرجلكم إلى الكعبين

“Wahai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak melakukan shalat maka cucilah wajahmu dan kedua tanganmu sampai siku-siku, dan usaplah kepalamu, dan (cucilah) kedua kakimu sampai dua mata kaki…”. (Al Maidah : 6).

Sisi pendalilannya: Bahwa wawu ‘athof tidak mengharuskan tertib sebagaimana yang dikatakan oleh mayoritas ahli nahwu, dan Allah menyebutkan delapan jenis orang yang berhak mendapatkan zakat dalam surat At Taubah : 60 dengan menggunakan wawu ‘athof, sedangkan bila didahulukan salah satunya dari yang lain, hukumnya tetap boleh.

Hadits tentang tata cara tayamum yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam:

إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى الْأَرْضِ فَنَفَضَهَا ثُمَّ ضَرَبَ بِشِمَالِهِ عَلَى يَمِينِهِ وَبِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ عَلَى الْكَفَّيْنِ ثُمَّ مَسَحَ وَجْهَهُ

“Sesungguhnya cukuplah bagimu melakukan begini: beliau menepukkan tangannya ke bumi, lalu menggerakkannya, kemudian mengusap tangan kanannya dengan tangan kirinya, dan mengusap tangan kirinya dengan tangan kanannya, kemudian mengusap wajahnya”. (HR Abu Dawud).[7]

Sisi pendalilannnya: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan tertib dalam tayammum, dan jika tertib dalam tayammum bukan syarat, maka tertib dalam wudlupun bukan syarat, karena tidak ada bedanya.

Hadits-hadits yang menunjukkan tidak tertib dalam wudlu, yaitu :

Pertama : Dari shahabat Al Miqdam bin Ma’dikarib ia berkata :

أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَضُوءٍ فَتَوَضَّأَ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا ثُمَّ غَسَلَ ذِرَاعَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثَلَاثًا وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ وَأُذُنَيْهِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا

“Didatangkan air wudlu kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berwudlu; mencuci dua telapak tangannya tiga kali kemudian mencuci wajahnya tiga kali kemudian mencuci dua hastanya tiga kali kemudian berkumur-kumur dan istinsyaq tiga kali dan mengusap kepalanya dan telinganya bagian luar dan dalam dan mencuci dua kakinya tiga kali”. (HR Ahmad).[8]

Kedua : Dari Busr bin Sa’id ia berkata :

أَتَى عُثْمَانُ الْمَقَاعِدَ فَدَعَا بِوَضُوءٍ فَتَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلَاثًا وَيَدَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا وَرِجْلَيْهِ ثَلَاثًا ثَلَاثًا ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَكَذَا يَتَوَضَّأُ يَا هَؤُلَاءِ أَكَذَاكَ قَالُوا نَعَمْ لِنَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Utsman mendatangi maqa’id dan meminta air wudlu lalu beliau berkumur-kumur dan istinsyaq kemudian mencuci wajahnya tiga kali kemudian kedua tangannya tiga kali tiga kali dan kedua kakinya tiga kali tiga kali kemudian mengusap kepalanya kemudian berkata: “Aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu begini, wahai kalian apakah benar demikian ? mereka menjawab: “Ya”. Beliau berkata kepada sekelompok shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR Ad Daraquthni).[9]

Ketiga: Hadits ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berwudlu, maka beliau mencuci wajahnya dan dua tangannya, kemudian dua kakinya, kemudian mengusap kepalanya dengan sisa air wudlunya.[10]

Perkataan Ali bin Abi Thalib radliyallahu: “Aku tidak peduli apabila aku menyempurnakan wudlu dengan anggota wudlu manapun aku memulai”. Dan perkataan ibnu Mas’ud radliyallahu ‘ahnu: “Tidak mengapa engkau memulai dua kakimu sebelum dua tanganmu dalam wudlu”.

 

Pendapat yang rajih, dan Jawaban terhadap pendapat kedua.

Yang rajih dari kedua pendapat di atas adalah pendapat pertama yang mewajibkan tertib dalam mencuci anggota wudlu, wallahu a’lam. Adapun dalil-dalil pendapat kedua dapat kita jawab dengan jawaban berikut ini:

pertama: Perkataan mereka bahwa wawu ‘athof tidak mengharuskan tertib adalah benar, namun kaidah umum tersebut tidak berlaku ketika adanya qarinah (penguat) yang menunjukkan kepada tertib, dan telah kita sebutkan bahwa kebiasaan orang arab apabila menyebutkan sesuatu yang sejenis dengan yang tidak sejenis, disebutkan dahulu yang sejenis kemudian setelah itu menyebutkan yang tidak sejenis, dan mereka tidak menyelisihi kebiasaan tersebut kecuali untuk sebuah faidah. Sedangkan dalam ayat ini, Allah memasukkan kepala yang diusap diantara dua yang dicuci, dan tidak diketahui faidahnya kecuali dalam rangka tertib berurutan.

Kedua :  Qiyas mereka dengan tayamum adalah tidak tepat dari dua sisi :

Pertama: Bahwa ia adalah qiyas kepada pokok yang masih diperselisihkan, sedangkan diantara syarat qiyas adalah hukum pokoknya harus disepakati oleh kedua belah pihak yang berselisih.

Kedua: Ia adalah qiyas yang berbeda, karena tayamum walaupun berfungsi sebagai pengganti wudlu, akan tetapi sifatnya tidak serupa dengan wudlu; tayammum hanya mengusap dua anggota saja berbeda dengan wudlu, tidak ada dalam tayammum berkumur-kumur dan istinsyaq, dan tayammum tidak disyari’atkan padanya diulang dua dan tiga kali berbeda dengan wudlu.

Ketiga : Hadits-hadits yang menunjukkan tidak wajibnya tertib semuanya lemah tidak dapat dijadikan hujjah, penjelasannya sebagai berikut :

Pertama: Hadits Al Miqdam bin Ma’dikarib dikeluarkan oleh imam Ahmad dan Abu Dawud dari jalan Hariz bin Utsman Ar Rahbi dari Abdurrahman bin Maisarah dari Al Miqdam. Dan Abdurrahman bin Maisarah dikatakan oleh ibnul Madini: “Majhul”[11]. Ibnul Qathan berkata: “Majhul hal”.[12] Dan dianggap tsiqah oleh Al ‘Ijli dan ibnu Hibban, keduanya terkenal sangat longgar dalam mentsiqahkan perawi, oleh karena itu Al Hafidz ibnu Hajar tidak menerima pentsiqahan mereka berdua, Al Hafidz berkata mengenai Abdurrahman bin Maisarah: “Maqbul”. Artinya diterima jika dimutaba’ah namun jika bersendirian haditsnya layyin (lemah), dan ini maknanya bahwa periwayatan Abdurrahman bin Maisarah tidak diterima jika bersendirian, bagaimana jadinya jika ia menyelisihi ?! Dan di sini ia telah menyelisihi riwayat-riwayat yang shahih dari para shahabat seperti Utsman, Abdullah bin Zaid dan Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhum yang memperaktekan wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara tertib.

Jika ada yang berkata: “Bukankah Abu Dawud berkata: “Syuyukh (guru-guru) Hariz semuanya tsiqah”. Sedangkan Abdurrahman bin Maisarah termasuk gurunya Hariz”.

Dijawab, bahwa perkataan ini bersifat umum, dapat dipakai selama tidak ada perkataan ulama jarh wata’dil yang menyelisihinya, dan bila ada perkataan ulama yang menyelisihinya, maka lebih didahulukan dari perkataan yang bersifat umum tersebut, karena hampir setiap yang umum selalu ada yang mengkhususkannya, dan setiap kaidah biasanya ada perkara yang tidak masuk kaidah tersebut. Oleh karena itu Al Hafidz ibnu Hajar tidak menganggap perkataan Abu Dawud tadi sebagai hujah untuk mentsiqahkan Abdurrahman bin Maisarah[13]. Wallahu a’lam.

Kedua : Hadits Busr bin Sa’id juga dla’if, dikeluarkan oleh Ad Daraquthni (1/85) dari jalan ibnul Asyja’I haddatsana ayahku dari Sufyan Ats Tsauri dari Salim Abu Nadlr dari Busr bin Sa’id. Ad Daraquthni berkata setelahnya: “Shahih kecuali mengakhirkan usapan kepala karena ia tidak mahfudz (syadz), ibnul Asyja’i bersendirian meriwayatkannya dengan sanad dan lafadz ini, sedangkan Abdullah bin Al Walid, Yazid bin Abi Hakim, Al Firyabi, Abu Ahmad, dan Abu Hudzaifah meriwayatkan dari Ats Tsauri dengan lafadz: “Sesungguhnya Utsman berwudlu tiga kali-tiga kali dan berkata: “Beginilah aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudlu”. Dan mereka semua tidak memberikan tambahan lafadz lebih dari ini”.

Sementara imam Ahmad (1/67-68) meriwayatkan hadits tersebut dengan lafadz: “Kemudian mengusap kepalanya dan dua kakinya tiga kali-tiga kali…”. Ahmad Syakir berkata: “Sanadnya shahih”.[14] Dan hadits Utsman mempunyai jalan-jalan lainnya tentang sifat wudlu namun tidak ada satupun yang menyebutkannya dengan tanpa tertib.

Ketiga : Adapun hadits ibnu Abbas adalah hadits yang tidak ada asalnya, disebutkan oleh ibnul Jauzi dalam At Tahqiq (1/163) dengan tanpa sanad dan beliau berkata: “Tidak sah”. Dan disebutkan juga oleh An Nawawi dan beliau berkata: “Tidak dikenal”.[15]

Keempat : Sedangkan atsar Ali bin Abi Thalib dan ibnu Mas’ud adalah lemah juga, penjelasannya sebagai berikut :

Adapun atsar Ali dikeluarkan oleh ibnu Abi Syaibah (1/39), ibnul Mundzir dalam Al Ausath (1/422), Abu Ubaid dalam Ath Thuhur (341), Ad Daraquthni dalam sunannya (1/88) dan Al Baihaqi dalam Sunan Kubra (1/87) dari jalan ‘Auf dari Abdullah bin Amru bin Hindun dari Ali. Dan ‘Auf bin Abdullah adalah dla’if, Ad Daraquthni berkata: “Laisa bil qawiy (kurang kuat)”.

Dan juga sanadnya munqathi’ (terputus). Abu Hatim Ar Razi rahimahullah berkata: “Abdullah bin ‘Amru bin Hindun tidak pernah mendengar dari Ali”. (Al Marasil no 109). Dan Al Baihaqi mendla’ifkan atsar ini.

Sedangkan atsar ibnu Mas’ud dikeluarkan oleh ibnu Abi Syaibah (1/39), ibnul Mundzir dalam Al Ausath (1/422) dan Ad Daraquthni (1/89) dari jalan ibnu Juraij dari Sulaiman bin Musa dari Mujahid dari Abdullah bin Mas’ud.

Sanad ini mempunyai dua ‘illat :

  1. Ibnu Juraij terkenal sebagai perawi mudallis dan disini ia membawakan riwayat dengan lafadz ‘an dan tidak tegas menyatakan mendengar.
  2. Sanadnya terputus, Al Baihaqi berkata: “Mujahid tidak bertemu dengan ibnu Mas’ud”. (Al Kubra 1/81). Dan atsar ini dikatakan oleh Ad Daraquthni: “Tidak tsabit”. Maksudnya lemah.[16]


[1] Lihat kitab ikhtiyarat Fiqhiyah lil imam Al Khathabi karya Sa’ad bin Abdullah bin Nashir Al Buraik.

[2] Dikeluarkan oleh Abu Dawud no 858, dan ibnu Majah no 460 dari jalan Al Hajjaj bin Al Minhal haddatsana Hammam haddatsana Ishaq bin Abdillah bin Abi Thalhah dari Ali bin Yahya bin Khollad dari ayahnya dari pamannya yaitu Rifa’ah bin Rafi’. Qultu : sanad ini shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan dishahihkan pula oleh syaikh Al Bani rahimahullah dalam shahih sunan Abi Dawud. Hammam yaitu bin Yahya bin Dinar Al ‘Audzi.

[3] Al Khathabi, Ma’alim assunan 1/183.

[4] Ibnu Hajar, Fathul bari 1/313.

[5] Ibnu Qudamah, Al Mughni 1/190.

[6] Ibnu Qayyim, zadul ma’ad 1/194.

[7] Abu Dawud no 321 dan dikeluarkan juga oleh Bukhari dan Muslim dengan menggunakan wawu (dan).

[8] Musnad Ahmad bin Hanbal 4/132.

[9] Sunan Ad Daraquthni 1/85 no 10.

[10] Disebutkan oleh An Nawawi dalam Al Majmu’ (1/444).

[11] Al Mizan 2/594.

[12] Al Badrul munir 3/430.

[13] Zakaria bin ghulam Al Bakistani, Tanqihul kalam hal 62.

[14] Tahqiq musnad imam Ahmad 1/372.

[15] Tanqihul kalam hal 64.

[16] Tanqihul kalam hal 65.

sihir

Awas Dukun !!!

Fenomena Maraknya Perdukunan

Maraknya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan alternatif cukup kuat, tak Cuma jamu tradisional dan pijat refleksi, tapi pengobatan lewat makhluk halus seperti jin banyak diminati.

Konglomerat jin, misalnya juga ikut laris, para normal menurut istilah kerennya, dukun menurut istilah kampungnya, orang pintar / tua menurut istilah jawanya…telah bermunculan dimana-mana.

Sebutan boleh berbeda – beda, namun hakikatnya tetap sama, sama-sama menyimpang dan merusak aqidah islam yang benar.

Trend sosialisasi dukun

Gelar paranormal akhir-akhir ini semakin mencuat. Di Surabaya misalnya ada gelar paranormal, di Surakarta ada gelar penyembuhan supra natural, di Yogyakarta ada nuansa supra natural yang ternyata peminatnya kian membludak, lebih-lebih di dukung pula dengan media visual dan audio visual.

Sebagaimana lazimnya kegiatan tersebut di barengi dengan acara seperti praktek jasa para normal, demo ilmu gaib, bursa batu mulia dan lain-lain.

Khusus di Yogya, setiap malam masih diadakan acara saresehan yang  dihadiri dukun – dukun pakar. Diantaranya ahli primbon, betaljemur, dukun ahli pengobatan, dukun ahli perkutut, ahli ramal dan dukun pawang hujan. Para tokoh paranormal laki-laki dan perempuan datang dari berbagai penjuru antara lain, Jakarta, Surabaya, Malang, Madiun, Pati dan Yogyakarta sendiri.masing-masing membuka praktek sesuai keahlianya.

Melihat sekilas dari beberapa kegiatan diatas, nampaknya dunia klenik dan perdukunan secara mencolok telah menjamur di segenap pelosok tanpa malu-malu sekalipun dengan sebutan yang berbeda-beda. Banyak masyarakat indonesia yang tidak berpegang kepada aqidah yang benar selalu menjadikan orang pintar, paranormal, dukun, tabib dan sebangsanya menjadi tempat bertanya, tempat mengadu, tempat mencurahkan segala keluh kesah dan tempat bersandar.

Tidak jarang mereka justru menjadi pihak yang lebih dipercaya petuah-petuahnya dan lebih dipatuhi titahnya dari pada syari’at islam dan orang tuanya sendiri. Itu mencakup segala persoalan, mulai dari masalah kesehatan, jodoh, pangkat, rizki…sampai pada masalah santet dan tenung. Orang sakit parah (dokter katanya sudah angkat tangan) datang kepada dukun, tabib atau yang sebangsanya. Orang ingin cepat mendapat jodoh, cepat naik pangkat, cepat kaya juga datang ke tempat orang pintar ini. Seolah-olah mereka adalah orang-orang yang serba bisa dan serba mampu mengatasai masalah. Trik-trik yang sering mereka gunakan seperti :” inikan hanya ikhtiyar, yang menentukan kan Tuhan “. Adalah trik-trik jitu yang sangat efisien untuk memperdayakan orang-orang awam muslim yang bodoh.

Realita yang menantang

Itulah salah satu kenyataan realistik yang tidak boleh dipandang dengan sebelah mata. Ini fakta yang sangat memprihatinkan. Siapapun da’I yang bertanggung jawab, tidak boleh membiarkan umat terjerumus dalam jurang kemusyrikan.

Realita ini merupakan fenomena yang aneh. Aneh tapi nyata. Orang berakal sehat akan bertanya-tanya, mengapa di zaman tekhnologi dan komunikasi yang serba canggih ini ternyata klenik, mistik, dan perdukunan masih lengket, bahkan terkesan semakin lengket dengan kehidupan masyarakat ?

Adalah kabar yang tak bisa ditutup tutupi bahwa tokoh-tokoh, pemuka masyarakat dan para pegawai tinggi maupun rendahan banyak yang masih menyerahkan persoalan kehidupan kepada paranormal. Yang maju memang tekhnologinya tapi jiwa dan aqidah masyarakat banyak yang masih rapuh dan terbelakang.

Sebab  utama  dari  semua  itu  adalah  karena Tauhidnya kepada Allah masih belum benar, atau bahkan belum ada sama sekali. Apalagi kecenderungan manusia lebih suka dengan hal-hal yang cepat terwujud dalam bentuk nyata di dunia dan tidak sabar menghadapi wujud nyata yang akan datang nanti di akhirat. Mereka amat suka bila sekarang di dunia memperoleh kebaikan duniawi sekalipun harus menempuh cara yang salah.

Melihat fenomena ini, maka upaya paling utama adalah dengan memahamkan hakikat tauhid, dan menanamkan rasa tawakkal yang kuat hanya kepada Allah saja.

siapakah dukun itu  ?

Imam Bukhary dalam shahihnya, kitab Ath Thibb telah membuat bab tersendiri berjudul bab al kahanah yakni bab tentang perdukunan. Dalam keterangannya, Al hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa :” al kahanah ialah pekerjaan mengaku-aku tahu tentang ilmu ghaib, seperti pemberitaan mengenai apa yang bakal terjadi di muka bumi dengan penyandaran terhadap sebab, asal usulnya berasal dari kabar jin yang mencuri dengar perkataan malaikat, kemudian hasil curiannya tersebut disampaikan ke telinga dukun “. (fathul bary 10/216).

Selanjutnya beliau memberikan penjelasan tentang pengertian dukun, katanya :” dukun ialah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut seorang tukang ramal, atau orang  yang  suka  menebak  sesuatu dengan menggunakan batu kerikil, atau seorang ahli nujum. Juga di gunakan untuk menyebut orang yang suka (memberikan jasa) mengatasi persoalan atau memenuhi kebutuhan orang lain (misalnya pengobatan alternatif lewat kekuatan gaib –pen).

Tanda-tanda dukun

Jika didapati pada seseorang salah satu dari tanda berikut ini, maka dapat disimpulkan bahwa ia adalah dukun, sekalipun ia memakai sorban atau memakai kerudung, diantara tanda-tandanya yaitu :

  1. suka bertanya nama pasien dan nama ibunya.
  2. suka mengambil sesuatu yang biasa dipakai pasien, seperti baju, peci, sapu tangan dan lain-lain.
  3. terkadang meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih, kadang darahnya dioleskan kebagian-bagian tubuh yang sakit, atau dibuang ketempat angker.
  4. suka menuliskan rajah-rajah.
  5. membaca mantera-mantera jimat atau huruf-huruf rajah yang tidak bisa difahami.
  6. memberi bungkusan hijib kepada pasien yang berisi huruf-huruf dan angka-angka.
  7. kadang menyuruh pasien untuk menjauhi manusia beberapa waktu dengan menyepi dan mengurung diri dalam sebuah kamar gelap yang disebut oleh orang awam sebagai hujbah.
  8. kadang minta  pasien  untuk  tidak  menyentuh air selama beberapa hari, biasanya 40 hari.
  9. memberi sesuatu kepada pasien untuk ditanam di dalam tanah.
  10. memberi lembaran kertas kepada pasien untuk dibakar, lalu asapnya digunakan untuk mengasapi dirinya.
  11. berkomat-kamit dengan bahasa yang tidak difahami.
  12. terkadang memberi tahu kepada pasien tentang namanya, kampung halamannya, kesulitan yang dihadapi sebelum si pasien memberitahu.
  13. terkadang menuliskan huruf-huruf  untuk si pasien diatas kertas hijib untuk dimasukkan kedalam bejana putih berisi air, kemudian meminumnya.

(Asharimul battar hal. 77-78 karya Abdussalam bali).

Perlu diketahui bahwa kesaktian paranormal itu bertingkat tingkat, sesuai dengan ketinggian jin yang menjadi kawannya. Lebih hebat jinnya maka harus lebih hebat pula kemusyrikan yang diperbuatnya. Bahkan sampai ada yang menjadikan mushaf al qur’an sebagai alas kaki pada waktu buang air besar di WC, agar yang datang kepada dirinya adalah setan/jin yang sangat sakti. Bahkan kalau perlu berkawan dengan iblis sekalian !!

Adalah satu keniscayaan, bahwa antara dukun dengan segala istilah dan tingkatannya, serta iblis yang meliputi seluruh bala tentaranya saling bahu membahu dalam kemaksiatan dan kesyirikan, memerangi kebenaran dan menghiasi kemaksiatan dan kesirikan dengan kata-kata indah yang menggiurkan.

Sumber ilmu paranormal / dukun

Imam Bukhary dalam sahihnya meriwayatkan dari Aisyah radliyallahu’anha, beliau berkata :” orang-orang bertanya kepada Rosulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tentang para dukun. Maka beliau menjawab :” tidak ada apa-apanya “. Maka para sahabat berkata :” Ya Rosulallah, mereka kadang – kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami “. Maka Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

تلك الكلمة من الحق يخطفها الجني فيقرها في أذن وليه فيخلطون معها مئة كذبة

Kalimat tersebut berasal dari kebenaranyang dicuri dari seorang jin (dari langit), kemudian dituangkan kedalam telinga walinya (dukun), maka mereka mencampurkan kalimat yang berisi satu kebenaran tersebut dengan seratus kebohongan “. (no 5762).

Dalam hadits tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik, diantaranya :

  1. bahwa dukun terkadang benar, tapi kebohongannya jauh lebih banyak.
  2. bahwa jiwa manusia cenderung lebih mudah tergoda untuk menerima kebatilan. Misalnya, sekali dukun terbukti benar, maka jiwa akan terpengaruh untuk selalu memegang satu kebenaran yang pernah terbukti, sementara ia tidak akan menganggap adanya sekian banyak kebohongan yang dilakukan para dukun.
  3. Bahwa apabila sesuatu mengandung kebenaran, maka tidak berarti sesuatu itu seluruhnya benar.
  4. Imam Bukhary menyebutkan riwayat lain dari Abu Hurairah, Nabi bersabda :” Apabila Allah memutuskan perkara dilangit, para malaikat memukulkan sayapnya karena tunduk mendengar firmanNya, seolah-olah (suara firmanNya) bak gemerincing rantai besi yang terlempar pada batu. Maka ketika rasa takut telah hilang dari hati malaikat, mereka bertanya :” apa yang telah dikatakan Rabbmu ? malaikat lain menjawab :” Allah telah mengatakan al haq, sedangkan Dia Maha Tinggi dan Maha Besar. Maka disaat itu ada setan pencuri kabar yang mendengarkannya. Dan setan-setan itu seperti ini…sebagian yang satu naik keatas sebagian yang lain. Kemudian setan pencuri kabar tersebut berhasil mendengarkan kalimat (wahyu dari Allah), lalu ia sampaikan kepada setan yang berada dibawahnya, setan yang dibawahnya menyampaikan kalimat tersebut kepada setan yang dibawahnya lagi sampai akhirnya sampai kelidah tukang sihir atau dukun. Terkadang setan tersebut keburu diterjang bintang api sebelum sempat meyampaikan kalimat tersebut, terkadang mereka berhasil meyampaikannya kemudian ditambahkan dengan seratus kebohongan bersama dengan kalimat kebenaran yang dicurinya tadi. Akibatnya orang-orang berkata :” Bukankah  dukun  itu t
  5. elah berkata kepada kami hari begini dan begini (dengan benar) demikian dan demikian ? walhasil si dukun dipercayai orang karena satu kalimat benar yang didengarnya dari langit “. (no. 4800).
  6. Hadits diatas menunjukkan bahwa sumber ilmu para dukun berasal dari pengabaran para setan yang mencuri kabar langit kemudian di campuri dengan seratus kebohongan.
  7. Tapi sayang, orang lebih tertipu dengan satu kebenaran dan melupakan seratus kebohongan yang dikatakan oleh para dukun.

Asal usul mengapa seseorang menjadi dukun

Ada beberapa sumber cara hingga seseorang menjadi dukun, diantaranya  :

1. bersumber dari warisan nenek moyang secara turun temurun.

Ini biasanya karena jin-jin (khadam) yang dimiliki nenek moyang kemudian akrab dan menjadi pengasuh serta berkuasa atas anak keturunannya.

2. bersumber dari apa yang mereka sebut kasyaf, ilham, wangsit atau renungan.

Mereka beranggapan, bahwa dari sanalah mereka dapat mengetahui ilmu ghaib atau ilmu laduni. Dengan dasar itulah mereka mengklaim bahwa dirinya adalah wali yang mendapat karamah, dan makhluk halus yang berbicara  dengan  dirinya  adalah  malaikat.

Akibatnya orang awam banyak yang datang untuk meminta berkah kepada mereka atau meminta agar kebutuhannya dapat dipenuhi. Ini jelas merupakan kebohongan yang nyata. Sesungguhnya mereka memang wali, tapi wali setan, sama sekali bukan wali Allah. Sedangkan daya linuwih yang mereka sebut sebagai karamah atau ilmu laduni sebenarnya hanyalah sihir. Dan makhluk halus yang disangka malaikat tidak lain hanyalah jin dan setan.

Allah Ta’ala menegaskan dalam firmanNya :

وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلىَ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ

sesungguhnya setan itu membisikkan (wahyunya) kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu…(Al An’am : 121).

Al Hafidz Ibnu Katsir berkata :” Ibnu ‘Abbas berkata :” wahyu itu ada dua macam, wahyu dari Allah dan wahyu dari setan… wahyu dari setan diberikan kepada kawan-kawannya dengan tujuan menyerang para pengikut kebenaran “.

3. bersumber dari benda-benda yang keramat.

Atau istilah sekarang benda-benda mulia seperti batu mulia, kayu bertuah, wesi aji, kulbuntet, merah delima, qur’an stambul dan lain-lain.

Benda-benda tersebut konon bisa didapatkan dari para nenek moyang atau dari makhluk halus melalui tapa, semedi, atau beli dari para dukun.

Bahaya Dukun Dan Perdukunan

 Islam memandang perdukunan sebagai suatu perbuatan yang berbahaya yang dapat mengancam aqidah seseorang yang berakibat menjadi batal keislamannya, diantara bahaya dukun dan perdukunan adalah :

1. sihir adalah salah satu pembatal keislaman.

Para ulama memasukkan sihir salah satu pembatal keislaman sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Muhammad At Tamimy dalam kitab beliau “ Nawaqidlul islam “ (pembatal-pembatal islam). Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

وَمَا يُعَلِّماَنِ مِنْ أَحَدٍ حَتىَّ يَقُوْلاَ إِنَّماَ نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ

Dan keduanya (harut dan marut) tidak mengajari seseorang (ilmu sihir) kecuali setelah mengatakan kepadanya :” sesungguhnya kami ini hanyalah cobaan (buatmu) maka janganlah kamu menjadi kafir…” (QS 2 : 102).

Ibnu Abbas berkata menafsirkan ayat tersebut :” apabila ada orang yang datang kepada keduanya (Harut & Marut) untuk belajar sihir, keduanya melarang dengan keras dan berkata :” kami ini hanyalah cobaan untukmu maka janganlah kamu mejadi kafir, karena keduanya mengajarkan kebaikan dan keburukan, keimanan dan kekafiran. Dan mengetahui bahwa sihir termasuk kekafiran…”.

2. mengaku-aku tahu yang ghaib adalah termasuk menyekutukan Allah dalam kerububiyahan-Nya.

Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali Allah, firmanNya :

ُقلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّماَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Katakanlah : Tidak ada siapapun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah “. (QS An Naml : 65).

Ibnu Katsir berkata :” Allah memerintahkan RosulNya untuk menyampaikan bahwa siapapun dari penghuni langit dan bumi tidak ada yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah saja “. (3/452).

Allah memberitahu kabar gaib hanya kepada RosulNya saja (QS Al Jinn : 26). Dan membantah keyakinan bahwa para jin itu mengetahui gaib, firmanNya :”Maka tatkala Kami memenetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkanya kepada mereka kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka saat ia tersungkur, para jinpun tahu bahwa kalaulah mereka tahu yang gaib tentu mereka tidak akan tetap di dalam siksa yang menghinakan “. (QS Saba’ : 14).

Menurut Ibnu Abbs, Mujahid, Hasan Al Bashry, Qatadah dan yang lainnya, dalam waktu yang lama kematian Nabi Sulaiman tidak diketahui hingga rayap memakan tongkatnya dan Nabi Sulaiman jatuh tersungkur  ke bumi. Baru  kemudian  nyatalah  kepada jinn dan manusia, bahwa jin tidak mengetahui yang gaib. (Tafsir Ibnu Katsir 3/638-639).

Praktek-praktek perdukunan, seperti melihat nasib baik buruk seseorang, mencari barang yang hilang, mengetahui ihwal orang lain, dan yang semacam itu melalui cara semisal membaca garis tangan seseorang, menghubungkana nasib dengan huruf, juz, atau ayat-ayat tertentu, melihat dalam mangkuk dan lain sebagainya merupakan perkara kekafiran dan dosa yang sangat besar sebagaimana yang disebutkan oleh imam Adz Dzahaby dan Ibnu Hajar Al Haitamy.

3. Dukun menyekutukan Allah dalam keuluhiyahanNya.

Suatu yang biasa bila dukun mendekatkan diri kepada jin dengan berbagai macam bentuk ibadah seperti menyembelih untuk jin (roh), padahal Rosulullah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah (HSR Muslim) dan menyembelih adalah ibadah yang hanya diperuntukkan kepada Allah, orang yang memalingkannya kepada selain Allah telah berbuat syirik besar.

Mereka juga minta perlindungan dan bantuan jinn sedangkan keduanya adalah ibadah yang harus ditujukan hanya  kepada Allah, walhasil seorang dukun semakin kuat ketaatannya kepada jin (khadamnya) maka semakin senang pula jinn kepadanya, dan keduanya saling menikmati satu sama lainnya.

Hal itu telah Allah kabarkan dalam firmanNya

Dan ingatlah hari Allah menghimpun mereka semua, (dan Allah berfirman): hai golongan jin (setan) sesungguhnya kalian telah banyak menyesatkan manusia. Lalu berkata kawan-kawan mereka dari golongan manusia : Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian lainnya, dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau telah tentukan bagi kami. Allah berfirman : Neraka itulah tempat tinggal kalian, kekal selama-lamanya, kecuali Allah menghendaki lain. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana dan Maha Tahu “  (QS Al An’am : 128).

4. Mendatangi dukun dan mempercayainya adalah kekafiran terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam.

Dalam hadits sahih Nabi bersabda :

من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد

“Barang siapa mendatangi dukun dan membenarkan apa yang ia katakan, sunguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhamad”. HR Ahmad, sahih).

5. Dukun memperolok agama Allah.

Diantara dukun ada yang menulis al qur’an dengan kotoran manusia, ada pula yang menjadikannya sebagai alas kaki ketika  buang  hajat,  ini  jelas  sebuah Perbuatan yang keji dan kemurtadan yang terang, diantara mereka ada yang mencari kekuatan dengan cara membaca ayat-ayat tertentu sehingga tidak mempan di bacok, dapat menjatuhkan orang dari jarak jauh.

Hal itupun merupakan perbuatan memperolok ayat-ayat Allah, setan dapat masuk kepada manusia dengan cara yang bid’ah tersebut. Karena al qur’an tidaklah turun untuk hal itu tapi sebagai peringatan kepada manusia dan pemberi kabar gembira.

6. sihir adalah perkara yang dapat membinasakan  pelakunya di dunia dan akhirat.

Nabi bersabda :” jauhilah tujuh perkara yang membinasakan ; menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan jihad, dan menuduh wanita muslimah yang menjaga kehormatannya telah berbuat zina “.(Muttafaq ‘alaih).

7. Sihir menzolimi orang lain.

Sering kali dukun menyakiti orang lain dengan santet, pelet, dan sejenisnya, mengguna-guna orang sehingga hidupnya hancur, jelas ini adalah kezaliman yang tidak akan Allah biarkan.

Wallahu a’lam.

baca alquran di kuburan

Seputar Tafsir Shahabat Radhiyallahu’anhum

Sesungguhnya penafsiran shahabat mempunyai keistimewaan yang lebih dibandingkan dengan penafsiran generasi setelahnya, diantaranya adalah :

1. Al Qur’an turun dengan bahasa mereka.

Allah Ta’ala berfirman :

  إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآناً عَرَبِيّاً لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa arab agar kamu memahaminya.” (Yusuf : 2).

Para shahabat adalah generasi yang paling fashih dalam bahasa arab sehingga mereka lebih memahami makna-makna yang terkandung dalam Al qur’an.

2. Mereka langsung menyaksikan turunnya Al qur’an.

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata: “Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain-Nya, tidak ada satu ayatpun yang turun di dalam kitabullah kecuali saya mengetahui kepada apa ia turun dan dimana turunnya, kalaulah aku mengetahui ada seseorang yang lebih mengetahui kitabullah dariku yang dapat ditempuh oleh unta, niscaya aku akan mendatanginya.”

Orang yang langsung menyaksikan tentu lebih faham karena ia mengetahui peristiwa dan kejadian ketika turunnya Ayat-ayat Al Qur’an, sehingga lebih mampu memahami makna yang diinginkan dari ayat tersebut.

3. Mereka langsung mengambil tafsir Al Qur’an dari mulut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang suci.

Abu Abdirrahman As Sulami berkata,”Telah bercerita kepada kami orang-orang yang mengajarkan kami Al Qur’an bahwa dahulu mereka apabila mempelajari sepuluh ayat Al Qur’an dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak menambah lagi sampai mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya dari amal, maka kamipun mempelajari Al Qur’an dan amal semuanya.” (HR Ath Thabari).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik-baiknya guru maka para shahabat adalah sebaik-baiknya murid, mereka mendapatkan bimbingan langsung dari Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga pastilah mereka lebih faham dibandingkan generasi setelahnya.

4. Mereka langsung melihat praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap Al Qur’an.

Aisyah radliyallahu ‘anha berkata,”Akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Al Qur’an.” (HR Ahmad).

Merekapun menyaksikan bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sholat, zakat, berpuasa, berhaji, dan perintah-perintah Al Qur’an lainnya, dan ini juga keistimewaan yang hanya dimiliki oleh generasi shahabat saja.

5. Allah dan Rosul-Nya memuji para shahabat.

Banyak pujian di dalam Al Qur’an terhadap para shahabat seperti firman Allah Ta’ala :

  وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْه

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan merekapun ridla kepada Allah.” (At Taubah : 100).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,”Allah Ta’ala memuji orang yang mengikuti para shahabat; maka apabila para shahabat berpendapat dengan sebuah pendapat lalu diikuti oleh seseorang sebelum mengetahui kebenaran pendapatnya berarti ia telah mengikuti mereka, maka pasti orang tersebut terpuji dengan perbuatannya itu dan berhak mendapatkan keridoan Allah.”[1]

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun memuji shahabat, beliau bersabda :

النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لأَصْحَابِى فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِى مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِى أَمَنَةٌ لأُمَّتِى فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِى أَتَى أُمَّتِى مَا يُوعَدُونَ

Bintang adalah amanah untuk langit, apabila bintang telah pergi maka datang kepada langit apa yang dijanjikan kepadanya, aku adalah amanah untuk para shahabatku, apabila aku telah pergi datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka, dan shahabatku adalah amanah untuk umatku, apabila shahabatku telah pergi datang kepada umatku apa yang dijanjikan kepada mereka.” (HR Muslim[2]).

Di dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa bintang adalah amanah untuk langit, lalu beliau menyebut dirinya dan para shahabatnya bagaikan bintang dan di dalam Al Qur’an bintang mempunyai tiga fungsi yaitu sebagai penunjuk jalan, sebagai penghias langit, dan sebagai pelempar setan. Maka para shahabat adalah penunjuk jalan bagi umat islam dalam memahami Al Qur’an dan sunnah, mereka adalah hiasan bagi umat islam, dan pelempar syubhat setan yang merusak aqidah dan pemikiran umat islam.

Ini adalah keistimewaan-keistimewaan yang hanya dimiliki oleh generasi shahabat, maka sudah semestinya kita tidak boleh menyimpang dari penafsiran mereka, syaikhul islam ibnu Taimiyah berkata: “Barang siapa yang menyimpang dari madzhab shahabat dan Tabi’in dan penafsiran mereka maka ia telah salah bahkan berbuat bid’ah walaupun ia mujtahid yang diampuni dosanya.”[3]

 

Kaidah-kaidah penting

Ada beberap kaidah penting yang berhubungan dengan tafsir para shahabat yang mesti kita ketahui, diantaranya adalah :

Kaidah pertama : Perselisihan shahabat dalam tafsir kebanyakan adalah perselisihan yang bersifat variatif.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Perselisihan diantara salaf dalam tafsir adalah sedikit, dan perselisihan mereka di dalam hukum lebih banyak dari perselisihan mereka di dalam tafsir, dan mayoritas perselisihan yang shahih dari mereka adalah dari jenis perselisihan tanawwu’ (pariatif) bukan perselisihan tadlod (kontradiktif). Dan ia ada dua :

Pertama : Setiap mereka mengungkapkan dengan ungkapan yang berbeda dengan ungkapan temannya yang menunjukkan kepada makna yang berbeda dengan makna temannya namun maksudnya adalah satu.

Contohnya adalah perbedaan ungkapan mereka dalam menafsirkan “Shirotul mustaqim” sebagian mereka menafsirkan bahwa ia adalah Al Qur’an dan sebagian mereka menafsirkan bahwa ia adalah islam. Dua penafsiran ini tidak bertentangan karena agama islam adalah mengikuti Al Qur’an.. demikian pula orang yang menafsirkan bahwa ia adalah sunnah dan jama’ah, atau jalan ubudiyah, atau ketaatan kepada Allah dan Rosul-Nya, mereka semua mengisyaratkan kepada satu dzat akan tetapi setiap mereka memberikan sifat yang berbeda dengan sifat yang yang diberikan oleh orang lain.

Kedua : Setiap mereka menyebutkan sebagian jenis dari nama yang umum dalam rangka memberikan contoh/permisalan bukan dalam rangka memberikan definisi atau batasan dalam keumuman dan kekhususannya.

Contohnya adalah penafsiran mereka mengenai firman Allah Ta’ala :

 ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِير

Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan idzin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir 32).

Dan telah diketahui bahwa orang yang menzalimi dirinya mencakup orang yang menyia-nyiakan kewajiban dan melanggar keharaman. Dan yang pertengahan mencakup melakukan kewajiban dan meninggalkan keharaman dan As Sabiq (orang yang mendahului) mencakup orang yang mendekatkan diri dengan hasanat selain kewajiban yang ia lakukan.

Kemudian setiap mereka menyebutkan ini pada salah satu macam dari macam-macam ketaatan, seperti perkataan seseorang: “As Sabiq adalah yang sholat di awal waktu, dan yang pertengahan adalah orang yang sholat di dalam waktunya, dan zalim adalah orang yang mengakhirkan sholat ashar sampai matahari menguning.”[4]

Kaidah kedua : Pendapat seorang shahabat yang tidak diketahui adanya penyelisihan dari shahabat lain adalah hujjah.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata: “Apabila pendapat seorang shahabat tidak diselisihi oleh shahabat lain maka (tidak lepas dari dua keadaan) (1) pendapat tersebut terkenal di kalangan shahabat atau (2) tidak terkenal. Apabila terkenal maka myoritas fuqoha menyatakan bahwa ia adalah ijma’ dan hujjah dan sebagian fuqoha berpendapat bahwa ia adalah hujjah namun bukan ijma’.

Dan apabila tidak terkenal atau tidak diketahui apakah ia terkenal atau tidak, maka para ulama berbeda pendapat apakah ia hujjah atau bukan; pendapat mayoritas ulama bahwa ia adalah hujjah, ini adalah pendapat mayoritas hanafiyah sebagaimana yang dinyatakan oleh Muhammad bin Al Hasan dan ia juga menyebutkan nash dari perkataan Abu Hanifah, dan ini juga pendapat Malik dan pengikutnya, dan ini juga pendapat Ishaq bin Rohawaih dan Abu Ubaid dan ini juga yang dinyatakan oleh imam Ahmad dalam beberapa tempat dan dipilih oleh mayoritas pengikutnya, dan ini juga yang dinyatakan oleh imam Asy Syafi’I dalam qoul (pendapat) dahulu dan barunya… imam Syafi’I dalam pendapat barunya menyatakan dengan tegas dari riwayat Rabie’ dari beliau bahwa pendapat shahabat adalah hujjah yang harus dipegang.

Imam Asy Syafi’I berkata: “Pendapat shahabat apabila berselisih kami pegang yang sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah atau ijma’ karena sesuai dengan qiyas, dan apabila pendapat shahabat itu tidak diketahui adanya penyelisihan maka aku tetap mengikuti pendapatnya apabila aku tidak menemukan Al Qur’an tidak juga dalam As Sunnah atau ijma’ tidak juga yang semakna dengannya yang bisa dijadikan hukum atau ditemukan qiyas bersama pendapat tersebut.”[5]

Kaidah ketiga : Penafsiran shahabat yang tidak dikenal suka mengambil dari Ahli kitab yang bukan dalam tempat ijtihad tidak pula penukilan dari bahasa arab hukumnya adalah marfu’.

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidzahullah berkata: “Sesungguhnya perkataan shahabat yang tidak dikenal suka mengambil dari Ahli Kitab dan bukan berasal dari ro’yu, seperti pengabaran tentang sesuatu yang ghaib maka ia dihukumi marfu’ sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, walaupun shahabat itu tidak menyatakan penisbatannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti perkataan shahabat mengenai tanda-tanda hari kiamat, adzab qubur, tentang surga dan Neraka, dan sebab turunnya ayat dari shahabat yang tidak suka mengambil dari Ahli kitab seperti ibnu Mas’ud, Umar dan lainnya jika mereka mengatakan seuatu perkataan yang tidak mungkin diketahui dari ijtihad atau akal, maka perkataan seperti ini adalah hujjah yang dihukumi marfu’.

Bahkan Al Hakim dalam kitabnya “Ulumul hadits” memasukkan penafsiran shahabat dalam hukum marfu’ namun pendapat ini tidak benar, Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah memberikan koreksi terhadap pendapat tersenut dalam kitab “An Nukat ‘ala ibnu Sholah” (2/20) beliau berkata: “Yang benar bahwa batasan penafsiran shahabat jika termasuk perkara yang bukan lapangan ijtihad tidak pula dinukil dari lisan arab maka hukumnya adalah marfu’ dan jika tidak demikian maka tidak, seperti pengabaran tentang kabar umat terdahulu…”.

Beliau berkata lagi: “Adapun apabila penafsiran itu berhubungan dengan hukum syari’at, boleh jadi tafsir itu diambil dari Nabi shallallahu ‘alahi wasallam dan bisa juga dari kaidah-kaidah sehingga tidak bisa dipastikan kemarfu’annya, demikian juga penafsiran tentang kosa kata, maka ini adalah penukilan tentang lisan arab secara khusus sehingga tidak dipastikan kemarfu’annya, dan pendapat yang kami perinci ini yang dijadikan sandaran banyak ulama-ulama besar.”[6]

Kaidah keempat : Apabila para shahabat berbeda pendapat menjadi dua pendapat misalnya maka tidak boleh kita mengadakan pendapat yang ketiga.

Syaikhul islam ibnu Taimiyah ketika menyebutkan kesalahan-kesalahan dalam menafsirkan Al Qur’an beliau berkata: “Yang paling besar kesalahannya dari mereka semua adalah orang yang maksud tujuannya adalah bukan untuk mengetahui apa yang Allah inginkan, akan tetapi tujuannya adalah menta’wil ayat untuk membantah lawannya yang berhujah dengan ayat tersebut, dan mereka jatuh ke dalam berbagai macam tahrif (merubah-rubah Al Qur’an) sehingga diantara mereka ada yang membolehkan menafsirkan ayat dengan penafsiran yang berlawanan dengan tafsir salaf, mereka berkata,”Apabila manusia (shahabat) berselisih dalam menafsirkan ayat menjadi dua pendapat maka boleh bagi orang setelahnya untuk mengadakan pendapat yang ketiga, berbeda bila mereka berselisih dalam sebuah hukum menjadi dua pendapat.

Ini adalah sebuah kesalahan, karena mereka (para shahabat) apabila bersepakat bahwa makna sebuah ayat adalah ini atau ini, maka pendapat yang mengatakan bahwa maksud ayat itu selain dua tadi berarti ia telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan) mereka. Inilah tata cara orang yang maksudnya hanya untuk membantah bukan dalam rangka mengetahui apa yang diinginkan oleh ayat tersebut, jika tidak demikian maka bagaimana umat (para salaf) akan sesat dalam memahami Al Qur’an dan penafsiran mereka semua tidak benar, lalu orang-orang yang terakhir mengetahui makna yang diinginkan ?![7]

Abul Mudzofar As Sam’ani berkata: “Yang shahih adalah haram mengadakan pendapat yang ketiga, karena ijma’ mereka diatas dua pendapat adalah ijma untuk mengharamkan pendapat selainnya, dan kita tidak boleh menyelisihi ijma’ diatas satu pendapat karena ia mengandung pengharaman pendapat selainnya, demikian juga ijma’ mereka di atas dua pendapat juga mengandung pengharaman pendapat selainnnya.

Dan yang menunjukkan kepada pendapat ini juga adalah adakan pendapat yang ketigatang orang-orang yang terakhir mengetahui an sesat dalam memahami Al Qur’etahui gadabahwa kebenaran tidak akan keluar dari ijma’, kalaulah diperbolehkan mengadakan pendapat yang ketiga yang tidak diyakini oleh mereka (kedua pendapat tadi) berarti kebenaran telah keluar dari pendapat mereka, sehingga boleh jadi kebenaran itu ada pada pendapat yang ketiga dan ini jelas membatalkan ijma’.”[8]

Kaidah kelima : Penafsiran shahabat apabila bertentangan dengan penafsiran Rosulullah maka dikompromikan terlebih dahulu, bila tidak bisa maka penafsiran Rosulullah lebih didahulukan.

Syaikh Muhamad bin Jamil Zainu berkata: “Apabila tafsir hadits bertentangan dengan penafsiran shahabat atau tabi’in, maka kita harus mengkompromikan dua penafsiran tadi, dan jika tidak memungkinkan maka yang wajib adalah mendahulukan penafsiran Rosul shallallahu ‘alaihi wasallam karena beliau lebih mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah Ta’ala. Contohnya adalah tafsir firman Allah Ta’ala :

  يوم يكشف عن ساق

Pada hari disingkapkannya betis.” (Al Qolam : 42).

Imam Bukhari menafsirkan ayat itu dengan hadits :

يَكْشِفُ رَبُّنَا عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ

Rabb kita menyingkapkan betisnya, maka sujudlah kepada-Nya semua mukmin dan mukminah.” (HR Bukhari).[9]

Namun dalam sebuah riwayat, ibnu Abbas menafsirkan bahwa maknanya adalah hari yang amat susah, jika riwayat ini shahih[10] tidaklah bertentangan dengan hadits itu, maka maknanya adalah bahwa pada hari kiamat Allah menyingkapkan betisnya dan hari itu adalah hari yang amat susah, atau mungkin kita katakan bahwa ibnu Abbas belum sampai kepadanya hadits Abu Sa’id Al Khudri tadi.”[11]

Kaidah keenam : Memeriksa keabsahan riwayat tafsir shahabat.

Contohnya adalah tafsir firman Allah Ta’ala :

  ولا جنبا إلا عابر سبيل

Tidak juga orang yang junub kecuali yang menyeberang jalan.” (An Nisaa : 43).

Ibnu Abbas dalam sebuah riwayat menafsirkan maknanya adalah Kecuali engkau melewat di masjid, namun riwayat ini dla’if karena di dalamnya ada perawi yang bernama Abu Ja’far Ar Razi, ia lemah. Demikian pula ibnu mas’ud menafsirkannya dengan penafsiran ibnu Abbas tadi akan tetapi sanadnya juga lemah karena ia diriwayatkan dari jalan Abi Ubaidah dari ibnu Mas’ud, sedangkan Abu Ubaidah tidak mendengar dari ibnu Mas’ud sehingga sanadnya terputus.

Dan tentunya kritik sanad haruslah sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiyah dalam ilmu hadits dan tidak boleh dimasuki oleh hawa nafsu, karena banyak tafsir shahabat yang dianggap lemah karena tidak sesuai dengan hawa nafsu, contohnya adalah tafsir ibnu Abbas terhadap ayat “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka ia termasuk orang-orang kafir.” (Al Maidah : 44),  Bahwa kufur di dalam ayat ini maksudnya adalah kufur yang tidak mengeluarkan pelakunya dari millah islam ia adalah kufur dibawah kufur. Riwayat ini dilemahkan oleh kaum khowarij di zaman ini, padahal riwayat ibnu Abbas ini adalah shahih, penjelasannya sebagai berikut :

Bahwa atsar tersebut diriwayatkan dari dua jalan ; jalan Thowus dari Ibnu ‘Abbas dan Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas.

Adapun jalan thowus diriwayatkan oleh Ahmad dalam al iman (4/160/1416 dicetak dalam assunnah oleh Abu Bakar Al Khollal) Muhammad bin Nashr Al Marwazi dalam ta’dhim qodr sholah (2/521/569), Ibnu ‘Abdil Barr dalam attamhid (4/237), Al Hakim (2/313) dan lainnya dari jalan Sufyan bin Uyainah dari Hisyam bin Hujair dari Thowus dari Ibnu ‘Abbas. Al Hakim berkata :” Hadits shohih sanadnya dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim “. Dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Syeikh Al Bani berkata :” hak keduanya untuk berkata : sesuai dengan syarat syaikhoin, karena sanadnya demikian… (silsilah shohihah 6/113). Akan tetapi di dalam sanadnya ada Hisyam bin Hujair, ia diperbincangkan oleh para ulama, kata Ibnu Syubrumah :” Tidak ada di makkah orang seperti dia “. Kata Al Ijli :” Tsiqoh “. Kata Ibnu Ma’in :” Sholih”. Kata Abu Hatim :” Yuktabu haditsuhu “. Kata Ibnu Sa’ad :” Tsiqoh lahu ahadiits “. Kata Ibnu Syahin :”tsiqoh”. Kata As Saji :” Shoduq “. Kata Adz Dzahabi :” Tsiqoh”. Kata Al Hafidz :” Shoduq lahu auham “. Dan di dlo’ifkan oleh Yahya Al Qoththon, imam Ahmad dan Ibnu Ma’in dalam satu riwayat. Sementara Bukhari dan Muslim berhujjah dengannya di dalam shahihnya.

Kesimpulannya bahwa Hisyam bin hujair adalah shoduq dan haditsnya hasan, akan tetapi ia tidak sendirian, tapi di mutaba’ah oleh Abdullah bin Thowus seorang rawi yang tsiqoh dari ayahnya dari Ibnu ‘Abbas dengan lafadz :” ia adalah kufur, akan tetapi tidak seperti kufur kepada Allah dan hari akhirat “. Dikeluarkan oleh Sufyan Ats Tsauri dalam tafsirnya (101/241). Adapun yang dikatakan muhaqqiq Sunan Sa’id bin Manshur bahwa terputus antara Sufyan dan Ibnu Thowus, maka itu sebuah kesalahan besar, karena Sufyan mendengar dari Ibnu Thawus dan riwayatnya ada dalam shohih Muslim, dan Sufyan terkadang meriwayatkannya dari Ma’mar dan terkadang dari Ibnu thowus secara langsung. Jadi kesimpulannya sanad ini shohih ditambah dengan mutaba’ah tadi.

Adapun jalan Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu ‘Abbas diriwayatkan oleh Ath Thobari dalam Jami’I al bayan (6/166) dari Al Mutsanna bin Ibrohim Al Amili dan Abu Hatim Ar Rozi dari Abdullah bin Sholih dari Mu’awiyah bin Sholih dari Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas ia berkata :” Barang siapa yang juchud kepada apa yang Allah turunkan maka ia kafir dan barang siapa yang mengakuinya tapi tidak berhukum dengannya maka ia dzolim dan fasiq “. Dan ini adalah sanad yang hasan, dan sebagian orang ada yang menganggapnya cacat dengan alasan bahwa Ali bin Abi tholhah tidak bertemu dengan Ibnu Abbas, akan tetapi telah dijawab oleh banyak ulama diantaranya adalah As Suyuthi dalam al itqon (2/188) ia berkata :” berkata suatu kaum bahwa Ibnu Abi Tholhah tidak mendengar tafsir dari Ibnu Abbas, tapi ia mengambilnya dari Mujahid atau Sa’id bin Jubair, Al Hafidz Ibnu hajar berkata :” Setelah diketahui perantaranya yang ternyata tsiqoh maka hal tersebut tidak berbahaya “.

Adapun Abdullah bin Sholih walaupun ia mukhtalith di akhir ahayatnya, akan tetapi Al Hafidz Ibnu hajar menyatakan bahwa riwayat Abu Hatim darinya sebelum terjadi takhlit, sehingga riwayatnya shohih.(lihat Hadyu saari hal 414).

Maka tidak ragu lagi atsar tersebut semakin jelas keshohihannya lebih-lebih ditambah dengan jalan thowus tadi, dan dikuatkan lagi oleh atsar dari Tabi’in besar yaitu Atho bin Abi Robah yang dishohihkan oleh Syeikh Al bani dalam silsilah shohihah (6/114)  dan para ulama hadits terdahulu dan sekarang kecuali orang yang jahil terhadap ilmu hadits telah menshohihkan atsar tersebut, diantaranya adalah : Al Hakim dalam mustadrok (2/393), Al Hafidz Ibnu Katsir dalam tafsirnya (2/64), Ath Thobari dalam jami’nya (6/166-167), Imam Muhammad bin Nashr Al Marwazi dalam ta’dzim qodrish sholah (2/520), Al Baghowi dalam ma’alim tanzil (3/61), Al Qurthubi dalam tafsirnya (6/190), Al buqo’I dalam nadzmud duror (2/460), Shiddiq hasan Khon dalam nailul marom (2/472), Al Qosim bin Sallam dalam al iman (hal 45), Abu Hayyan dalam al bahrul muhith (3/492), Ibnu Baththoh dalam al ibanah (2/723), Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid (4/237), Al Qosimi dalam mahasin at takwil (6/1998), Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ fatawa (7/312) (7/522), Ibnul Qoyyim dalam madarijussalikin (1/335-336), syeikh Al Bani dalam silsilah shohihah (6/109-116) dan ulama lainnya lebih dari 23 ahli hadits.[12]

Kaidah ketujuh : Tidak boleh mengadakan penafsiran yang tidak pernah difahami oleh salafusshalih.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata di dalam Mukhtashar Ash Showa’iq Al Mursalah 2/128 : “Sesungguhnya mengadakan sebuah pendapat dalam menafsirkan kitabullah yang bertentangan dengan penafsiran salaf dan para imam berkonskwensi dua perkara : Boleh jadi pendapat tersebut salah atau penafsiran salaf dan para imam yang salah !! tentu orang yang berakal tidak akan merasa ragu bahwa pendapat tersebut lebih layak salah dari penafsiran salaf dan para imam.”[13]

Al Hafidz ibnu Abdil Hadi  dala kitab Ash Shorim Al Munakki hal 427 berkata: “Tidak boleh mengadakan penafsiran ayat atau hadits yang tidak ada di zaman salaf yang tidak mereka ketahui tidak juga mereka jelaskan kepada umat, karena sikap seperti itu mengandung kesan bahwa mereka tidak mengetahui kebenaran dan telah tersesat jalan lalu datang orang terakhir mengetahui kebenaran tersebut.”

Diantara contoh penafsiran yang tidak pernah difahami oleh salafushalih adalah penafsiran mengenai firman Allah Ta’ala :

 كنتم خير أمة أخرحت للناس

Kamu adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan kepada manusia.” (Ali Imran : 110).

Kata “ukhrijat” (dikeluarkan) ditafsirkan dengan makna sebuah tata cara dakwah ke masjid-masjid selama tiga hari atau tujuh hari atau empat puluh hari dan seterusnya, dan penafsiran seperti ini tidak pernah dikenal oleh para ulama terdahulu, tidak juga di dapati di dalam kitab-kitab tafsir, kalaulah itu baik tentu merekalah yang pertama kali mengamalkannya.

 



[1] I’lamul muwaqqi’in hal 846 tahqiq Raid bin Sobri.

[2] Muslim 4/1961 no 2531.

[3] Majmu’ fatawa 13/361.

[4] Majmu’ fatawa 13/333-337 dengan ringkas.

 

[5] I’lamul muwaqi’in 548-551 tahqiq Syaikh Msyhur Hasan Salman, secara ringkas.

[6] At Tahqiqot wattanqihat hal 435-436.

[7] Majmu’ fatawa 15/95.

[8] Qowathi’ adillah 2/18 cet. Darul kutub ilmiyah.

[9] Bukhari no 4919.

[10] Riwayat itu didla’ifkan oleh syaikh Salim dalam kitab Al Minhal Ar Raqraq karena ia adalah riwayat yang mudltharib.

[11] Kaifa nafhamul qur’an hal 12-13.

[12] Dirujuk kitab Qurrotul ‘uyun karya Syaikh Salim Al hilali.

[13] Lihat ilmu ushul bid’a hal 142.

Website Pribadi Ustadz Badrusalam, Lc.