Home / Artikel / Pengertian Janabah

Pengertian Janabah

Pengertian Janabah

Firman Allah Ta’ala:

و إن كنتم جنبا فاطهروا

“Dan jika kamu junub maka mandilah”.

Janabah adalah untuk dua orang :

Pertama :

Orang yang keluar mani walaupun dengan tanpa jima’, berdasarkan hadits Abu Sa’id Al Khudri radliyallahu ‘anhu bahwa Nabi H bersabda :

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنْ الْمَاءِ

“Sesungguhnya air (mandi) itu karena air (mani)”. (HR Muslim).[1]

Dan mengeluarkan mani ada dua keadaan :

Keadaan sadar
Orang yang mengeluarkan mani dalam keadaan sadar, syarat wajibnya mandi adalah apabila keluarnya dengan syahwat, berdasarkan sabda Nabi H :

إِذَا فَضَخْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ

“Apabila engkau melemparkan air mani maka mandilah”. (HR Abu Dawud dan An Nasai).[2]

Dan di dalam riwayat Ahmad dalam musnadnya[3] dengan lafadz :

إِذَا حَذَفْتَ فَاغْتَسِلْ مِنْ الْجَنَابَةِ وَإِذَا لَمْ تَكُنْ حَاذِفًا فَلَا تَغْتَسِلْ

“Apabila engkau melemparkan (mani) dari janabah mandilah, dan apabila tidak maka tidak perlu mandi”.

Dan melemparkan mani tidak akan terjadi bila tanpa syahwat sebagaimana firman Allah:

خلق من ماء دافق

“Diciptakan dari air yang terpancar”. (Ath Thariq : 6).

Dan apabila ia mengeluarkan maninya dengan tanpa syahwat, namun karena sakit dan sebagainya, maka tidak ada kewajiban mandi baginya, dan ini adalah pendapat jumhur ulama dan itulah yang rajih, Wallahu a’lam.

Kapan Wajib Mandi Janabah

Dalam keadaan tidur (mimpi).
Orang yang mengeluarkan mani dalam keadaan tidur wajib mandi walaupun dengan tanpa syahwat, sebagaimana dalam hadits Aisyah radliyallahu ‘anha ia berkata :

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ وَلَا يَذْكُرُ احْتِلَامًا قَالَ يَغْتَسِلُ وَعَنْ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدْ احْتَلَمَ وَلَا يَجِدُ الْبَلَلَ قَالَ لَا غُسْلَ عَلَيْهِ

“Rasulullah H ditanya tentang seorang laki-laki mendapati basah dan tidak ingat mimpi, beliau menjawab: “Hendaklah ia mandi”. Dan ditanya tentang seorang laki-laki bermimpi namun tidak mendapatkan basah, beliau menjawab: “Tidak ada mandi untuknya”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (233) dan At Tirmidzi (113) dengan sanad yang lemah karena dalam sanadnya ada Abdullah bin Umar Al Umari seorang perawi yang dla’if, namun makna hadits ini dikuatkan oleh hadits Ummu Salamah ia berkata:

جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ امْرَأَةُ أَبِي طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي مِنْ الْحَقِّ هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا هِيَ احْتَلَمَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ إِذَا رَأَتْ الْمَاءَ

“Ummu Sulaim istri Abu Thalhah datang kepada Rosulullah H dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran, apakah wanita wajib mandi jika bermimpi ?” Rasulullah H bersabda: “Iya, apabila ia melihat air (mani)”. (HR Bukhari dan Muslim).[4]

Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang bermimpi dan melihat air mani maka wajib baginya mandi janabah, dan mafhum mukhalafah (pemahaman kebalikan) hadits ini menunjukkan bahwa apabila ia tidak melihat air maka tidak wajib mandi. Dan sabda beliau : “Apabila ia melihat air (mani)”. Menunjukkan bahwa wajibnya mandi bagi orang yang bermimpi tergantung kepada melihat air mani atau tidak, baik mengeluarkannya dengan syahwat maupun tidak, karena lafadznya mutlak, wallahu a’lam.

Kedua :

Bertemunya kemaluan laki-laki dan wanita (jima’) walaupun tidak mengeluarkan air mani.

Batasan pertemuan dua kemaluan adalah apabila kepala kemaluan pria masuk ke dalam kemaluan wanita, dan ini dengan ijma’ para ulama. Ibnu Qudamah p berkata: “Dan bertemunya dua khitan yakni lenyapnya kepala kemaluan pria dalam kemaluan wanita, karena inilah yang mewajibkan mandi, sama saja apakah keduanya berkhitan ataupun tidak… jika kemaluan (pria) hanya menempel di kemaluan (wanita) dengan tanpa masuk maka tidak wajib mandi dengan kesepakatan ulama”.[5]

Bertemunya kemaluan laki-laki dan wanita mewajibkan mandi berdasarkan hadits :

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الْأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ

“Apabila ia duduk (jima’) diantara cabangnya yang empat kemudian bersungguh-sungguh maka wajib baginya mandi”. (HR Bukhari dan Muslim)[6] dan dalam riwayat Muslim ada tambahan: “Walaupun ia tidak mengeluarkan mani”.

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَت إِنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَفْعَلُ ذَلِكَ أَنَا وَهَذِهِ ثُمَّ نَغْتَسِلُ

“Dari Aisyah istri Nabi H ia berkata: “Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang suami yang menyetubuhi istrinya, kemudian malas (tidak mengeluarkan mani), apakah keduanya wajib mandi? sementara Aisyah sedang duduk, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku melakukan demikian dengan wanita ini (Aisyah) kemudian kami mandi”. (HR Muslim).[7]

Dan ini adalah madzhab jumhur ulama yaitu bertemunya kemaluan pria dan wanita walaupun tidak mengeluarkan mani, dan itulah yang rajih.

=======================================

[1] Muslim no 343, tarqim Muhamad Fuad Abdul Baqi.

[2] Abu Dawud no 206 dan An Nasai no 193 dari Ali bin Abi Thalib. Qultu : Sanadnya hasan semua perawinya tsiqah kecuali ‘Abiidah bin Humaid, Al Hafidz berkata: “Shoduq rubama akhtho”. Namun hadits ini mempunyai jalan lain dari Ali yang dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya dengan sanad yang hasan sebagaimana yang akan disebutkan, sehingga hadits ini terangkat menjadi shahih.

[3] Musnad Ahmad bin Hanbal no 847 ta’liq Syu’aib Al Arnauth. Qultu : sanadnya hasan semua perawinya tsiqah kecuali Rizam bin Sa’id, Al Hafidz berkata: “Shoduq”. Dan hadits ini menjadi shahih dengan jalan sebelumnya. Wallahu a’lam.

[4] Bukhari no 282 dan Muslim no 313.

[5] Ibnu Qudamah, Al Mughni 1/271.

[6] Bukhari no 291, dan Muslim no 348.

[7] Muslim no 350.

Lihat “Artikel Fiqih”

About Ustadz Badrusalam

Nama beliau adalah Abu Yahya Badrussalam. Beliau lahir pada tanggal 27 April 1976 di desa Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor, tempat dimana studio Radio Rodja berdiri. Beliau menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Fakultas Hadits pada tahun 2001

Check Also

Kaidah Fikih (24) : Keraguan Setelah Ibadah Tidak Dianggap

Keraguan setelah melakukan ibadah itu tidak dianggap. Keraguan biasanya terjadi di dua tempat: 1. Ketika …

Tulis Komentar