Home / Artikel / Aqidah / Menepis Syubhat Pembela Tawassul Yang Haram (Bag. terakhir)

Menepis Syubhat Pembela Tawassul Yang Haram (Bag. terakhir)

Syubhat 22. Hadits do’a menghafal Al Qur’an:

ذكره موسى بن عبد الرحمن الصنعاني صاحب التفسير بإسناده عن ابن عباس مرفوعاً أنه قال : من سره أن يوعيه الله حفظ القرآن وحفظ أصناف العلم فليكتب هذا الدعاء في إناء نظيف في صحف قوارير بعسل وزعفران وماء مطر وليشربه على الريق وليصم ثلاثة أيام وليكن إفطاره عليه ويدعو به في أداء صلواته : اللهم إني أسألك بأنك مسؤول لم يسأل مثلك ولا يسأل وأسألك بحق محمد نبيك وإبراهيم خليلك وموسى روحك وكلمتك ووجيهك … وذكر تمام الدعاء .

Disebutkan oleh Musa bin Abdurrahman Ash Shan’ani pemilik kitab tafsir dengan sanadnya dari ibnu Abbas secara marfu’ bahwa ia berkata: “Barang siapa yang ingin dimudahkan oleh Allah untuk menghafal Al Qur’an dan menghafal berbagai macam ilmu, hendaklah ia menulis do’a berikut ini dalam bejana yang bersih, dalam lembaran botol dengan dicampur madu, za’faran, dan air hujan untuk diminum dan hendaklah ia berpuasa tiga hari, dah hendaklah ia berbuka dengannya dan ketika shalat ia berdo’a dengannya: Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu bahwasannya Engkaulah yang berhak diminta, tidak dimintai sesuatu sepertiMu, aku memohon kepadamu melalui hak muhammad NabiMu, dan Musa RuhMu, kalimatMu dan wajihMu… sampai akhir do’a.

Jawab:

Musa bin Abdurrahman Ash Shan’ani adalah penyakit kabar ini, ibnu Hibban berkata: “Dia Dajjal dan memalsukan hadits atas ibnu Juraij dari ‘Athaa dari ibnu Abbas sebuah kitab dalam tafsir yang ia kumpulkan dari perkataan Al Kalbi dan Muqatil”.[4] Dan As Suyuthi menganggapnya sebagai hadits yang palsu dan memasukkannya dalam kitab Al Laali al Mashnuu’ah (2/356), juga dinyatakan kepalsuannya oleh ibnu ‘Arraaq dalam kitab Tanzih Asy Syari’ah (2/322).

Syubhat 23. Kisah kaum Yahudi yang bertawassul dengan Nabi Muhamad untuk mengalahkan kaum musyrikin:

يروي عن عبد الملك بن هارون بن عنترة عن أبيه عن سعيد بن جبير عن ابن عباس قال : كانت يهود خيبر تقاتل غطفان فكلما التقوا هزمت يهود فعاذت بهذا الدعاء : اللهم إنا نسألك بحق محمد النبي الأمي الذي وعدتنا أن تخرجه لنا آخر الزمان إلا نصرتنا عليهم فكانوا إذا دعوا بهذا الدعاء هزموا غطفان فلما بعث النبي ( كفروا به فأنزل الله تعالى : ( وكانوا من قبل يستفتحون على الذين كفروا …)

Diriwayatkan dari Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah dari ayahnya dari Sa’id bin Jubair dari ibnu Abbas, ia berkata: “Dahulu, kaum Yahudi perang melawan ghathafan dan selalu kalah dalam peperangan, maka mereka berlindung dengan do’a ini: “Ya Allah, sesungguhnya Kami memohon kepadaMu dengan melalui hak Muhammad Nabi yang Ummiy yang Engkau janjikan kepada kami di akhir zaman, agar Engkau menangkan kami atas mereka. Dan mereka apabila berdo’a dengan do’a ini dapat mengalahkan ghathafan, namun ketika Nabi diutus, mereka kafir kepadanya, maka Allah turunkan ayat ini: “Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir..

Jawab:

Hadits ini berasal dari periwayatan Abdul Malik bin Harun bin ‘Antarah dari ayahnya, dan telah kita jelaskan pada bantahan terhadap syubhat yang ke 21 bahwa ia adalah perawi yang suka bedusta, sehingga kabar ini adalah palsu. dan Al Hakim dalam Al madkhal berkata: “Abdul malik bin Harun bin ‘Antarah Asy Syaibani meriwayatkan dari ayahnya hadits-hadits palsu”.

Dan di antara bukti yang menunjukkan kepalsuan kabar ini juga adalah bahwa ayat ini turun untuk Yahudi yang berada di madinah, dan Yahudi tidak pernah berperang melawan Ghathafan sekalipun.

Dan kalaupun misalnya kisah ini shahih, maka perbuatan Yahudi bukan dalil, justru kita jadikan dalil bahwa tawassul seperti ini adalah perbuatan kaum Yahudi yang dimurkai oleh Allah Ta’ala.

Syubhat 24. Hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan oleh At tirmidzi, ia berkata:

سألت أن يشفع لي يوم القيامة فقال : ( أنا فاعل ).

“Aku meminta (kepada Rasulullah) agar memberikan syafaat kepadaku pada hari kiamat”. Beliau bersabda: “Aku akan melakukannya”.

Jawab:

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu bukan sedang bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah matinya, namun Anas datang kepada beliau semasa hidupnya dan memohon agar beliau memberi syafa’at kepadanya pada hari kiamat kelak. Dan sabda Rasulullah: “Aku akan melakukannya”. Tentunya dengan idzin Allah dan keridlaanNya, dan para shahabat adalah generasi yang paling berhak mendapatkan syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, disebabkan oleh keimanan dan tauhid mereka yang amat kokoh, dan syafa’at Rasulullah hanya di dapat oleh orang yang tidak pernah mempersekutukan Allah, sebagaimana dalam hadits:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِه

“Orang yang paling berbahagia mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan penuh keikhlasan dari dirinya”. (HR Bukhari).

Maka hadits ini sama sekali tidak menunjukkan kepada bolehnya bertawassul kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau wafat.

Syubhat 25. Puisi Shafiyah bintu Abdil Muthalib.

ألا يا رسول الله أنت رجاؤنا

وكنت بنا براً ولم تك جافياً

ففيها النداء بعد وفاته مع قولها ( وأنت رجاؤنا ) وسمع تلك المرثية الصحابة ( فلم ينكر عليها أحد قولها : يا رسول الله أنت رجاؤنا .

Engkaulah wahai Rasulullah harapan kami

Yang selalu berbuat baik dan tidak bersikap dingin kepada kami

Mereka berkata: “Tidak ada satupun shahabat yang mengingkari perkataan Shafiyyah yang mengatakan: “Engkaulah wahai Rasulullah harapan kami”.

Jawab:

Dalam sya’ir di atas terdapat perubahan fatal, karena imam Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (9/39) dengan lafadz:

ألا يا رسول الله كنت رجاؤنا

وكنت بنا براً ولم تك جافياً

Wahai Rasulullah dahulu engkau harapan kami

Yang selalu berbuat baik dan tidak bersikap dingin kepada kami

Dan ini lafadz yang benar, dan lafadz yang benar ini justru menjadi dalil bahwa Shafiyyah membedakan antara masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah mati beliau, karena kata: “Kunta” menunjukkan kepada kejadian yang telah berlalu, namun mereka (para pembela tawassul syirik) kemudian merubahnya dengan lafadz “anta” agar lafadz tersebut dapat dipakai dalil bolehnya tawassul dengan Rasulullah setelah wafatnya. Demikianlah hawa nafsu bila berbicara, akan merusak agama.

Syubhat 26. Mimpi imam At Tirmidzi.

ذكر طاهر بن هاشم با علوي في كتابه المسمى (( مجمع الأحباب )) في ترجمة الإمام أبي عيسى الترمذي صاحب السنن أنه رأى في المنام رب العزة فسأله عما يحفظ عليه الإيمان حتى يتوفاه عليه قال : فقال لي : قل : إلهي بحرمة الحسن وأخيه وجده وبنيه وأمه وأبيه نجني من الغم الذي أنا فيه يا حي يا قيوم يا ذا الجلال والإكرام أسألك أن تحيي قلبي بنور معرفتك يا الله يا الله يا أرحم الراحمين .

Thahir bin Hasyim Ba’alwi menyebutkan dalam kitabnya “Majma’ul ahbaab” dalam biografi Abi Isa At Tirmidzi penulis kitab sunan, bahwa ia bermimpi bertemu dengan Allah, dan bertanya kepadaNya tentang sesuatu yang dapat menjaga keimanannya sampai wafat, maka Dia berkata: “Katakanlah: “Ilahi, dengan melalui kehormatan Al Hasan, saudaranya, kakeknya, anak-anaknya, ibu dan ayahnya, selamatkan aku dari kegundahan yang sedang menimpaku, wahai yang Maha hidup lagi berdiri sendiri, wahai yang mempunyai keagungan dan kemuliaan, aku memohon kepadaMu agar menghidupkan hatiku dengan cahaya ma’riftmu, ya Allah ya Allah ya arhamarrahimiin”.

Jawab:

Pertama: Kisah ini tidak ditemukan padanya sanad yang shahih sampai kepada imam At Tirmidzi, besar kemungkinan kisah ini dibuat oleh orang-orang sufi yang tidak bertanggung jawab.

Kedua: Mimpi bukanlah dalil untuk dijadikan sandaran dalam menentukan hukum syari’at, karena sandaran kita adalah Al Qur’an dan hadits yang shahih.

Syubhat 27. Tawassul imam Asy Syafii melalui Abu Hanifah di sisi kuburannya.

قال ابن حجر المكي في كتابه المسمى ( بالخيرات الحسان ) في مناقب أبي حنيفة النعمان في الفصل الخامس والعشرين أن الإمام الشافعي أيام هو ببغداد كان يتوسل بالإمام أبي حنيفة ( يجيء إلى ضريحه يزور فيسلم عليه ثم يتوسل إلى الله به في قضاء حاجاته .

ibnu Hajar Al Makki dalam kitabnya “Al Khairaatul hisaan” menyebutkan manaqib Abu Hanifah pada fasal 25, bahwa imam Asy Syafii ketika berada di baghdad bertawassul melalui imam Abu Hanifah, beliau mendatangi kuburannya dan mengucapkan salam kemudian bertawassul kepada Allah dengannya untuk memenuhi kebutuhannya.

Jawab:

Pertama: Kisah ini diriwayatkan oleh Al khathiib Al baghdadi dalam tarikh baghdad dari jalan Umar bin Ishaq bin Ibrahim, memberitahukan kepada kami Ali bin Maimun, aku mendengar Asy Syafi’i berkata: “Aku suka bertabarruk dengan kuburan Abu hanifah, aku mendatangi kuburannya setiap hari, apabila ada kebutuhan aku shalat dua raka’at dan mendatangi kuburannya, lalu aku memohon kepada Allah hajatku di sisinya, tak lama setelah itu hajatku dipenuhi”.

Dalam sanadnya terdapat Umar bin Ishaq bin Ibrahim, tidak diketahui siapa ia, dan tidak juga disebutkan beografinya dalam kitab-kitab rijaal[5], sehingga kisah ini adalah kisah yang lemah bahkan batil.

Kedua: Syaikhul islam rahimahullah berkata dalam kitab iqtidla ash shirathil mustaqim (1/343-344): “Ini adalah kedustaan yang nyata, orang yang mempunyai pengetahuan yang rendah saja dapat memastikan kedustaannya, karena Asy Syafi’i ketika datang ke kota Baghdad, tidak ada di kota Baghdad kuburan yang selalu dikunjungi untuk berdo’a di sisinya, bahkan di zaman imam Asy Syafi’i perbuatan tersebut tidak dikenal, padahal imam Asy Syafi’i telah melihat di Hijaz, Yaman, Syam, Iraq dan Mesir kuburan para Nabi, para shahabat dan para Tabi’in yang menurut kaum muslimin lebih utama dari Abu Hanifah dan ulama yang selevel dengannya, lalu ada apa imam Asy Syafi’i hanya berdo’a di sisi kuburan Abu hanifah saja?!

Kemudian shahabat-shahabat Abu Hanifah yang bertemu dengannya seperti Abu Yusuf, Muhammad, Zufar, Al Hasan bin Ziyad, dan lainnya tidak pernah berdo’a di sisi kuburan Abu Hanifah, tidak juga kuburan lainnya. Terlebih imam Asy Syafi’i mengharamkan mengagungkan kuburan makhluk karena khawatir akan menimbulkan fitnah terhadap kuburan. Orang yang membuat kisah ini hanyalah orang yang dangkal ilmu dan agamanya, atau dinukil dari orang yang tidak dikenal siapa ia”.

About Ustadz Badrusalam

Nama beliau adalah Abu Yahya Badrussalam. Beliau lahir pada tanggal 27 April 1976 di desa Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor, tempat dimana studio Radio Rodja berdiri. Beliau menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Fakultas Hadits pada tahun 2001

Check Also

Amal Yang Berat Ditimbangan

Kajian Ilmiah: Amal-amal Yang Berat Ditimbangan – Ustadz Badru Salam, Lc Amalan itu bertingkat-tingkat, ada …

Satu komentar

  1. Adhimas Putra Dewangga

    Assalam’ualaikum Pak Ustadz

    Saya Adhimas dari Aplikasi Muslim Ummah.
    Saya berniat untuk mengambil artikel artikel Pak Ustadz tanpa merubah apapun itu kedalam aplikasi saya.

    Apakah berkenan Pak Ustadz ? dan dapat kah saya minta alamat email Pak Ustadz secara pribadi ?

    Terima Kasih

    Mohon Informasinya.

    Best Regards,
    Adhimas

Tulis Komentar