Home / Artikel / Aqidah / Menepis Syubhat Pembela Tawassul Yang Haram (Bag. terakhir)

Menepis Syubhat Pembela Tawassul Yang Haram (Bag. terakhir)

Syubhat 28. Tawassul imam Asy Syafi’i dengan ahlul bait.

ذكر ابن حجر المكي في كتابه المسمى : بالصواعق المحرقة لإخوان الضلال والزندقة أن الإمام الشافعي ( توسل بأهل البيت النبوي حيث قال :

آل النبي ذريعتي

أرجو بهم أعطي غداً

وهم إليه وسيلتي

بيدي اليمين صحيفتي

Ibnu hajar Al Makki menyebutkan dalam kitabnya “Ash Shawa’iq Al Muhriqah” bahwa imam Asy Syafi’i bertawassul dengan ahli bait Nabi, ia berkata:

Keluarga Nabi pengantarku

Aku berharap besok melalui mereka diberi

Dan merekalah wasilahku kepadaNya

Di tangan kananku shahifahku.

Jawab:

Pertama: Kisah ini termasuk jenis kisah di atas, dan tidak diketahui sanad yang shahih kepada imam Asy Syafi’i, sehingga tidak mungkin dipastikan bahwa ini adalah perkataan imam Asy Syafi’i rahimahullah, boleh jadi kisah ini dibuat kaum sufi untuk menguatkan pendapatnya, dengan cara berdusta terhadap imam Asy Syafi’i. Dan yang kita ketahui dari imam Asy Syafi’i, beliau adalah imam yang sangat kuat berpegang kepada sunnah, sampai-sampai para ulama di zamannya memberikan beliau julukan: pembela sunnah, jadi sangat mustahil perkataan ini berasal dari perkataan beliau.

Kedua: Imam Asy Syafi’i bukanlah dalil yang menjadi sandaran dalam menentukan hukum syari’at, akan tetapi sandaran kita adalah Al Qur’an dan sunnah.

Syubhat 29. Atsar ibnu Umar dan ibnu Abbas.

Ibnu Sunni meriwayatkan dengan sanadnya kepada Abu Syu’bah ia berkata: “Aku pernah berjalan dengan ibnu Umar radliyallahu ‘anhuma, ternyata kaki beliau terasa berat dan beliaupun duduk, lalu ada seseorang berkata: “Sebutlah nama orang yang paling kamu sukai”. Ibnu Umar berkata: “Wahai Muhammad”. Maka beliau langsung bangkit dan berjalan.

Dan riwayat ibnu Abbas bahwa ada seorang laki-laki yang kakinya terasa berat, lalu ibnu Abbas berkata: “Sebutlah nama orang yang paling kamu cintai”. Ia berkata: “Muhammad”. Ternyata penyakitnya langsung hilang.

Jawab:

Pertama: Atsar ini bila shahih, tidak menunjukkan bolehnya bertawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat. Berkata Fadllullah Al Jiilaani: “Panggilan nama (Muhammad) yang ada pada sebagian Riwayat tidak menunjukkan untuk isti’anah (meminta pertolongan) atau istighatsah, akan tetapi maksudnya adalah memperlihatkan kerinduan dan menyalakan api cinta, karena mengingat orang yang tercinta dapat menghangatkan hati dan memberikan dorongan semangat, sehingga dapat menghilangkan darah yang membeku dan melancarkan aliran darah, dan inilah yang dinamakan kegembiraan”.[6]

Kedua: Atsar ini bermakna umum, yaitu menyebut orang yang paling dicintai, maka bila misalnya seorang lelaki atau wanita yang sedang jatuh cinta kepada seseorang, kemudian ia menyebut nama orang tersebut walaupun fasiq, apakah ini menunjukkan bolehnya bertawassul dengan orang tersebut, tentu tidak !!

Ketiga: Atsar ibnu Umar dan ibnu Abbas ini adalah atsar yang lemah, penjelasannya sebagai berikut:

Adapun atsar ibnu Umar, berporos kepada Abu ishaq As Sabii’i, walaupun ia perawi tsiqah namun ia adalah mudallis, dan di sini ia meriwayatkan dengan lafadz ‘an, sedangkan perawi mudallis bila meriwayatkan dengan lafadz ‘an tidak diterima. Dan sanadnya juga mudltharib (guncang), karena Abu Ishaq terkadang meriwayatkan dari Al Haitsam bin Hanasy seorang perawi majhul dari ibnu Umar, terkadang ia meriwayatkan dari Abdurrahman bin Sa’ad Al Qurasyi dari ibnu Umar, terkadang ia meriwayatkan dari Abu Sa’id perawi yang tidak dikenal dari ibnu Umar, terkadang ia meriwayatkan dari seseorang yang mendengar dari ibnu Umar dan tidak menyebut namanya. Dan jalan-jalan ini tidak dapat dirajihkan karena para perawinya sama-sama kuat seperti Syu’bah, Sufyan Ats Tsauri, Israil dan Zuhair bin Mu’awiyah. Dan keguncangan ini berasal dari Abu Ishaq, karena ia perawi yang mukhthalith (berubah hafalannya).

Adapun atsar ibnu Abbas adalah palsu karena di dalam sanadnya terdapat Ghiyats bin Ibrahim, Abu Dawud berkata: “Kadzaab (tukang dusta)”. Ibnu Ma’in berkata: “Kadzaab khobiits (tukang dusta yang buruk)”.[7]

Syubhat 30. Qiyas dengan makhluk.

Mereka berkata: “Apabila kita ada kebutuhan kepada penguasa, tentu kita pergi kepada ajudannya terlebih dahulu, lalu dia menyampaikan pengaduan kita kepada penguasa. Demikian juga kami kepada Allah, kami bertawassul melalui para Nabi, para wali dan orang-orang pilihanNya, agar mereka menyampaikan kebutuhan kami kepadaNya.

Jawab:

Pernyataan seperti ini bila kita perhatikan, sebetulnya adalah penghinaan terhadap Allah Ta’ala, karena:

Pertama: Allah tidak serupa dengan hambaNya, hamba adalah lemah sehingga membutuhkan ajudan, sedangkan Allah Maha sempurna tidak membutuhkan ajudan.

Kedua: Raja yang membutuhkan ajudan menunjukkan ia tidak mengetahui keadaan orang yang datang kepadanya, sehingga ia butuh ajudan atau pemberi syafa’at ketika minta bantuan kepadanya. Sedangkan Allah Maha tahu keadaan hamba-hambaNya sehingga tidak perlu kepada ajudan dan tidak pula seseorang dapat memberi syafa’at kecuali dengan idzinNya.

Ketiga: Raja yang membutuhkan ajudan menunjukkan kelemahannya untuk menolak orang yang ingin bermakar dan menzaliminya, sedangkan Allah Maha kuat dan Maha mengetahui makar orang-orang yang ingin bermakar kepadanya.

Keempat: Seseorang dapat memberi syafa’at di sisi Raja tanpa harus dengan idzin raja, sedangkan Allah adalah pemilik syafa’at dan tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan idzinNya.

Kelima: Raja yang membutuhkan ajudan menunjukkan ia tidak mempunyai keinginan untuk memberikan manfaat kepada rakyatnya kecuali bila ada yang menggerakkannya dari ajudan atau orang-orang yang dekat dengannya.

Dan lima perkara ini menjelaskan kepada kita rusaknya analogi tersebut, bahkan mengandung penghinaan terhadap Allah yang tidak serupa dengan makhluk-makhlukNya.

[1] At Tawashul ila haqiqatit Tawassul 1/271-272.

[2] Mukhtashar Al Kamil fidl Dlu’afa 1/727.

[3] Lisanul Mizan 4/71.

[4] Al Majruhin 2/242.

[5] Silsilah dla’ifah 1/78.

[6] Fadllullah Ash Shomad 4/422.

[7] Tajriid At Tauhid hal. 136-137 karya Faishal bin Qazar Al Jasim.

About Ustadz Badrusalam

Nama beliau adalah Abu Yahya Badrussalam. Beliau lahir pada tanggal 27 April 1976 di desa Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor, tempat dimana studio Radio Rodja berdiri. Beliau menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Fakultas Hadits pada tahun 2001

Check Also

Amal Yang Berat Ditimbangan

Kajian Ilmiah: Amal-amal Yang Berat Ditimbangan – Ustadz Badru Salam, Lc Amalan itu bertingkat-tingkat, ada …

Satu komentar

  1. Adhimas Putra Dewangga

    Assalam’ualaikum Pak Ustadz

    Saya Adhimas dari Aplikasi Muslim Ummah.
    Saya berniat untuk mengambil artikel artikel Pak Ustadz tanpa merubah apapun itu kedalam aplikasi saya.

    Apakah berkenan Pak Ustadz ? dan dapat kah saya minta alamat email Pak Ustadz secara pribadi ?

    Terima Kasih

    Mohon Informasinya.

    Best Regards,
    Adhimas

Tulis Komentar