Home / Soal-Jawab / Soal Jawab : Sholat di Waktu Dini Hari

Soal Jawab : Sholat di Waktu Dini Hari

Pertanyaan:

Ustadz, sebagian teman bila telah masuk sepuluh akhir ramadlan mereka lebih memilih sholat di waktu dini hari dan tidak sholat taraweh di awal malam. apakah ini dibenarkan?

Jawab:

Perbuatan seperti ini tidak sesuai perbuatan salafushalih.
Syaikh sholeh fauzan pernah ditanya tentang ini. beliau berkata:

أما صلاة التراويح، فإنها سنة مؤكدة، وفعلها بعد صلاة العشاء وراتبتها مباشرة، هذا هو الذي عليه عمل المسلمين.

أما تأخيرها كما يقول السائل إلى وقت آخر، ثم يأتون إلى المسجد ويصلون التراويح؛ فهذا خلاف ما كان عليه العمل، والفقهاء يذكرون أنها تُفعل بعد صلاة العشاء وراتبتها، فلو أنهم أخروها؛ لا نقول أن هذا محرم، ولكنه خلاف ما كان عليه العمل، وهي تفعل أول الليل، هذا هو الذي عليه العمل.

Adapun sholat tarawih, dia itu sunnah muakkadah (hukumnya). DIA DILAKSANAKAN LANGSUNG SETELAH SHOLAT ISYA DAN RAWATIBNYA. Itulah yang diamalkan kaum muslimin (salaf).
Adapun mengakhirkannya (tarawih)-seperti yg dikatakan penanya- kepada waktu yang lain. Kemudian mereka datang (lagi) ke masjid untuk sholat tarawih, maka INI MENYELISIHI AMALAN (SALAF).
(Al Muntaqo min fatawa syaikh fauzan 3/76)Bahkan syaikh Al Bani rahimahullah menganggap sholat tahajjud di waktu dini hari secara berjamaah termasuk perkara bid’ah. beliau berkata:

ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﻬﺠﺪ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺑﻌﺪ ﻣﻨﺘﺼﻒ ﺍﻟﻠﻴﻞ، ﺑﺪﻋﺔ ﻻ ﺃﺻﻞ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ، ﺇﺫ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ـ ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ـ ﻭﻣﺎ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ، ﻭﻻ ﺃﺑﻨﺎﺀ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻫﻢ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻮﻥ ﻭﻻ ﻣﻦ ﺗﺒﻌﻬﻢ .
ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﺑﺘﺪﺃﻫﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﻲ، ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻞ ﻧﺤﻮ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻋﺎﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ الحرام…

sholat tahajjud (berjamaah) yang didirikan di masjid masjid setelah lewat pertengahan malam adalah bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat.
Karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara berjamaah di masjid. Tidak pula para shahabat, tidak pula anak anak shahabat setelah mereka, tidak pula para tabi’in dan tabiuttabiin.
Yang pertama kali memulai adalah syaikh Abdullah Al Kholifi sekitar 50 tahun yang lalu di masjidil harom..
(Silsilatul hudaa wannuur)

Dijawab oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

About Ustadz Badrusalam

Nama beliau adalah Abu Yahya Badrussalam. Beliau lahir pada tanggal 27 April 1976 di desa Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor, tempat dimana studio Radio Rodja berdiri. Beliau menamatkan pendidikan S1 di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia Fakultas Hadits pada tahun 2001

Check Also

Kaidah Fikih (26) : Hukum Fardhu ‘Ain dan Fardhu Kifayah

Perintah apabila yang dimaksud darinya pelakunya, maka perintah itu hukumnya fardlu ain. Dan apabila yang …

2 comments

  1. Bismillah,
    Ustadz, penjelasan antum tentang bid’ahnya sholat tahajud berjama’ah di 10 hari terakhir romadhon ini cukup menggemparkan banyak ikhwan. Terus terang aja karena banyak sekali dari kita ahlussunnah salafiyun yang melakukannya. Tentunya salah satu alasannya bahwa mereka mengikuti apa yang dilakukan di masjidil harom atau masjid nabawi. Dan sebagai penguatnya mereka mengatakan sampai saat ini tidak ada satupun ulama kibar di Saudi yang mengingkarinya.
    Mohon dijelaskan lebih lanjut lagi mengenai masalah ini ustadz.
    Baarokallohu fiik
    Jazakallohu khoir

    Abu Hanif di Batam

  2. bismillah,
    Ustadz penjelasan antum tentang bid’ahnya sholat tahajud berjama’ah yang dirutinkan di 10 hari terakhir bulan romadhon setiap tahunnya cukup menggemparkan para ikhwan ahlussunnah salafiyun. Karena terus terang aja banyak sekali masjid-masjid ahlussunnah yang melakukannya. Alasannya apa yang dilakukan itu hanya mencontoh apa yang dilaksanakan di masjidil harom atau masjid nabi. Dan juga sampai saat ini tidak ada satu pun ulama kibar di Saudi yang mengingkarinya.
    Mohon penjelasan lebih lanjut lagi dalam hal ini ustadz.
    Baarokallohu fiik
    Jazakallohu khoir.

    Abu Aisyah
    Batam

Tulis Komentar